September, 2014

Fokus pada Impian, Setia pada Proses, Bayar harga di Awal_ __Untukmu; Ayah, Ibu__ 090111/san

Mar 9, 2012

Sumur; Gang Sunyi; Genangan Air. Tawa. Tsiqoh.




Assalamu’alaikum…
Eppzzz, dirasa sayang kalau tidak dituliskan.
Dakwah tak mengenal usia, tak pula sikap. Muda (semester awal), sedang (semester tengah), tua (semester akhir), semua punya kewajiban yang sama untuk berdkawah. Mereka yang temperamen, keras, kaku, polos, kurang peka, pendiam, joker, rame, semua juga punya kesempatan yang sama dalam berdakwah. Semua diminta untuk memberi manfaat bagi orang lain dengan kondisinya masing- masing hingga akan kita temukan orang- orang yang berlomba- lomba dalam kebaikan.
Dakwah kampus lewat lembaga yang hari ini sedang kita jalani semoga bisa menjadi satu bukti akan keseriusan kita dalam memberi banyak manfaat bagi sekeliling. Dihuni oleh orang- orang dengan berbagai usia serta karakter cukup memberikan warna- warni yang indah di dalamnya. Ia dinamis. Hingga membutuhkan orang- orang yang bisa membaca situasi serta mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Sumur, genangan air, gang sunyi, tawa, tsiqoh. Kelima aspek ini akan menjadi topik kajian yang kita lihat dari perspektif lain.

Sumur yang sedang dalam proses itu menjadi bukti bagi kita akan pentingnya persiapan yang amatang atas apa yang kemungkinan  terjadi. Pun dalam dakwah. Persiapan individu maupun jama’ah adalah satu keharusan. Saat hari ini kita melihat mahasiswa/i yang tidak lagi begitu peduli dengan agama mereka sendiri, apa yang perlu kita persiapkan? Saat peserta dauroh- dauroh yang kita adakan belum mampu memenuhi kebutuhan mereka, apa yang perlu kita persiapkan hingga dauroh kita nantinya tidak sepia tau bahkan tidak ada peserta sama sekali. Saat hari ini banyak rekan seperjuangan kita mulai mundur perlahan- lahan, apa yang perlu kita lakukan sebelum ‘genk kecewa’ itu didirikan? Berbicara persiapan tentu saja berbeda dengan berbicara tentang kekhawatiran yang berlebihan. Meneliti , mencari solusi, menjalankan aksi; itulah hakikat persiapan. 

Genangan air kita ibaratkan dengan kondisi hati kita. Saat hati sudah dipenuhi berbagai penyakit, dikhawatirkan akan menjadi sumber penyakit bagi orang lain. Tidak dipungkiri bahwa hati yang demikkian akan sulit untuk menerima nasihat maupun teguran. Keadaan ini semoga jauh dari kita, hingga kebaikan- kebaikan akan mudah kita terima dan sebarkan. Untuk itu, Tazkiyatun Nafs  adalah satu keharusan bagi seorang kader dakwah. 

Gang sunyi layaknya sudut hati kita. Ia butuh kesendirian. Saat sunyi, dengarkan ia. Muhasabah diri menjadi satu kebutuhan primer bagi seorang kader dakwah. Bukankah kita  ingin lebih baik setiap harinya?

Tawa ini hadir ketika kita sama, satu frekuensi. Kebahagiaan harus kita tunjukkan dalam keseharian. Jangan mengeluh untuk masa lalu dan terlalu gamang untuk menghadapi masa depan. Nikmati semua perjalanan ini. Amanah dan kesibukan yang begitu menyita waktu dan pikiran kita semoga menjadi alasan kita untuk tersenyum meyakinkan diri sendiri. Kerutan di wajah hanya akan semakin memperkeruh suasana diri sendiri dan hati orang lain. Keyakinan akan semuanya baik- baik saja akan membawa kita pada aksi yang menuju ke sana. Berbeda jika kita terlalu fokus pada kesulitan- kesulitan yang bakalan terjadi. Dari itu, kader dakwah harus memperbanyak senyum dalam kondisi apapun. Senyum yang tidak hanya produk wajah namun juga hadir dari hati yang tenang.

Tsiqoh. “Tidak ada islam melainkan dengan jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan imamah(kepemimpinan), dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan(ketsiqohan).” – Umar bin Khatab.
Over all, dirasa cukup. Terimakasih kepada sumur, genangan air, gang sunyi, yang memberi banyak pelajaran kepada kami. Tak lupa kepada kegiatan tawa dan tsiqoh yang sedang dalam proses penjagaan semoga tetap menemani di hari- hari kami. Harapannya, setiap hari adalah proses yang akan membawa kita pada kondisi yang lebih baik. Sungguh, dakwah butuh sosok itu. (10/03san)



Kutipan:
Mereka bersabar tidak hanya dalam menahan gejolak nafsu, namun mereka juga bersabar dalam menjalankan keta’atan. Titah apapun mereka laksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, kecuali bila titah itu memang berada di luar kemampuan mereka. Bisa dibayangkan betapa sabarnya mereka dalam menerima titah jihad, bahwa muslim satu tidak boleh mundur selama musuh tidak lebih dari 10 orang. Padahal saat ini jihad lawan 2 musuh saja terasa berat sekali (Q.S. al-Anfaal: 65-66). Betapa sabarnya mereka saat qiyamullail (shalat malam) diwajibkan atas mereka selama satu tahun. Dan ketika setahun berlalu mereka tetap kontinu menjalankannya walaupun hokum qiyamullail telah berganti sunnah. Maka Madinah sebagai markas sahabat dikeal sebagai tempat singa di siang hari dan tempatnya para pendeta di malam harinya. Singa, karena mereka begitu lincah, giat, dan berani dalam aktifitas perjuangan, dengan harta maupun jiwanya. Mereka disebut pendeta, karena mereka melakukan shalat malam beserta munajat-munajatnya dengan penuh khusyu; dan tadlarru’. Suara tangis mereka menyusup sela-sela angkasa Madinah laksana suara kumbang. Alangkah agungnya mereka. Dikatakan, “Pendeta di malam hari, dan menjadi singa di siang harinya.”

0 komentar:

Post a Comment

 
Baca Juga:
Langganan
Get It