October 2012

Masa- masa penyelesaian tugas akhir. Mohon doa, perhatian, dan pengertiannya. Jazakumullah khoir :) 27/03san

Man Jadda wa Jadda. Zhelayu Uspekha!

"Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?(QS. Al Qashash: 60)

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

QS. Ar Rahman: 13

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan. (QS. Yusuf: 55)

“Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik, sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu mustahil. Sedangkan Kami memandangnya mungkin terjadi. (Al-Maarij : 5-7)

“Hadapilah dengan senyuman. Selamat bahagia!

“Masalah Palestina bukan hanya masalah bangsa Palestina dan bangsa Arab saja. Tetapi masalah seluruh umat Islam, bahkan masalah kemanusiaan secara keseluruhan. Atas dasar pandangan aqidah inilah seluruh umat Islam wajib memahami kondisi dan permasalahan Palestina.

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.”

(Q.S At Taubah: 44)

“Berkata Musa, ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara aku dan orang-orang yang fasik itu."

Q.S Al Maidah; 25

““ Lailaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh dholimin “ Artinya : Tidak ada Tuhan Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku orang yang dholim "

(al anbiya;87)

““ Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab. "

Wanita adalah perhiasan. Dan sebaik- baik perhiasan adalah WANITA SHOLEHAH

HR. Muslim

"Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya."

HR. Tirmidzi

"Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari."

Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya.

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

QS. Ar Rahman: 13


May 24, 2012

Why So Serious?



 “Yaaah, Why So Serious? Toh hidup ini cuman sekali, santai aja kawan!”
“Yeee, sapa pula yang tertekan. Saya sih cukup bahagia dengan gaya hidup beginian.”
“Emmmmh, Nampak tuh yang kamu lagi banyak pikiran. Kita masih muda sob, gak usah serius- serius kali lah. Ntar nyeselll.”
“Lho__ Lho, apa2an ini? Gue baik- baik aja lho. Kamu tuh perlu dipertanyakan seharusnya.“
“Lha, kok jadi gue pula yang kena?”
“Beeegh, gak pernah serius. Liat tuh PR, kesentuh Jam- 1; Solat, ngasal; Ngesms, lebay; Becakap; berantakan; Jalan; nyorot semua. Halaaaah… pasti ada yang salah.”
“Opppzzz….”(ah, masak iya sih. Kan yang begituan model anak  muda sekarang, dalam hati)

Yup, mari kita serius!
Serius dengan hidup ini, karna ia hanya sekali, maka harus hidup yang berarti. 
1.   Serius dalam Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Ibadah
Selalu ada semangat tuk sebuah perbaikan. Ini adalah jargon teman- teman yang cukup serius menjalani hidup ini.
Kita tidak tahu raka’at sholat yang mana yang diterima Allah, baris tilawah yang mana yang bernilai pahala terbesar, puasa mana yang paling berkualitas. Kita tidak tahu. Oleh karena itu, kewajiban kitalah untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.


Kita patut khawatir dengan ibadah- ibadah yang selama ini kita kerjakan. Tidak ada jaminana yang bisa kita  buat bahwa ia diterima oleh Allah. Bisa jadi masih ada sedikit riya dalam sholat kita, kecamuknya pikiran ketika sholat, atau masih ada rasa bahwa ibadah- ibadah itu hanya sekadar rutinitas.


Heiii, kita harus serius mengevaluasi ini!
Pantaskah kita berbangga dengan tilawah 2 juz perhari, rawatib 6 kali rawatib, puasa Senin Kamis rutin?
Tidak, tidak pantas kawan!
Yaaah, wajar dong jika kita cukup serius mikirin ini.
Perlu Selalu ada HARAP dan TAKUT .

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan (perasaan) harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‘” (QS al-Anbiyaa’:90).


Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Yang dimaksud dengan ar-raja’ (berharap) adalah bahwa jika seorang hamba melakukan kesalahan (dosa atau kurang dalam melaksanakan perintah Allah) maka hendaknya dia bersangka baik kepada-Nya dan berharap agar Dia menghapuskan (mengampuni) dosanya, demikian pula ketika dia melakukan ketaatan (kepada-Nya) dia berharap agar Allah menerimanya. Adapun orang yang bergelimang dalam kemaksiatan kemudian dia berharap Allah tidak menyiksanya (pada hari kiamat) tanpa ada rasa penyesalan dan (kesadaran untuk) meninggalkan perbuatan maksiat (tanpa melakukan taubat yang benar kepada Allah), maka ini adalah orang yang tertipu (oleh setan)” .


Imam Hasan al-Bashri berkata, “Orang mukmin bersangka baik kepada Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka dia pun memperbaiki amal perbuatannya, sedangkan orang orang kafir dan munafik bersangka buruk kepada Allah maka mereka pun memperburuk amal perbuatan mereka” .


2.   Serius dalam Peningkatan Profesionalitas
Setiap muslim wajib menuntut ilmu. Rasulullah bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”. Allah memberikan keutamaan dan kemuliaan bagi orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya dalam Al-Qur`an surat Al-Mujaadilah ayat 11 :
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.


Satu keharusan bagi kita tuk selalu mengevaluasi diri sendiri atas keprofesionalan. Komitmen untuk mengerjakan tugas kuliah tepat waktu serta melayakkan diri sesuai dengan post- post kita, semua itu perlu keseriusan.
Kalau kita tidak serius, apa yang bakal terjadi?


3.   Serius dalam Perbaikan Karakter
Maaf jika sikap kami seperti ini. Yah, kami hanya ingin menjaga diri dan iman kami. Perlu kalian tahu, kami pun punya perasaan yang sama dengan kalian. Namun itu tidak serta merta menjadikan diri kami rela hina sendiri di hadapanNya. Siapa sih yang tidak ingin selalu diperhatikan, wow semua juga ingin. Kita- kita masih normal kok.


Inilah cara kami dalam menjaga sesuatu yang sangat berharga yang telah diberikan Rabb kami pada kami. Hidayah. Yah, ini satu barang mahal yang dititipkan pada kami. Jika demikian, berlebihan kah jika  kami sangat protektif menjaganya? Ibarat harta berharga yang kalian miliki, tentu selalu ada perasaan was- was jika ia hilang. Maka upaya apapun akan kalian lakukan tuk memastikan ia aman pada diri kalian. Pun kami.


Komunikasi kami, sikap kami, perbuatan kami, maaf jika risih. Tidak ada maksud yang lain, kecuali ingin menjaga diri dan barang termahal ini.
Keseriusan ini, semata- mata ingin memastikan diri tetap terjaga. Perubahan yang mungkin kalian rasakan dari kami pada waktu dulu dan sekarang, kami akui. Kami harus benar- benar harus menjaga ini, tapi tenang HAK kalian atas diri kami akan tetap dipenuhi.
Boleh lah kita sama- sama serius sejak sekarang. Asik lhooo ^_<


___Serious? Here We are___
Yaaah, kita akan serius beribadah, serius belajar, serius berkomunikasi.
Toh, beda- beda kan ekspresi keseriusan kita.
Satu hal yang perlu kita pahami bersama, serius tidak harus dilihat dari raut wajah. Kerutan di daki, eh dahi atau keseringan kita memejamkan mata saat berbicara (ini mah ngantuk namanya ). Namun serius lebih pada perbuatan kita.

“Sesungguhnya mereka yang berkata: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka beristiqomah, maka tak ada baginya rasa takut dan duka cita. Meraka adalah penghuni syurga kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa-apa yang mereka perbuat”. (Qs. Al Ahqaaf: 13-14).

Yap, keseriusan  adalah satu bukti upaya keistiqomahan kita. Yuk, mari…. (25/05san)

May 22, 2012

Jagalah Allah, Maka Allah Akan Menjagamu


Bergelut dengan berbagai agenda dalam berbeda situasi dan dengan beraneka ragam karakter menjadi keseharian kita selaku ADK. Hingga tidak dipungkiri rutinitas- rutinitas ini membentuk kita menjadi sosok yang super sibuk di kalangan teman- teman sekompleks (baca: jurusan). Semoga saja kesibukan itu semua punya tujuan yang jelas hingga kita tidak sibuk tak menentu yang hanya berakhir dengan penyesalan. Beberapa agenda terbengkalai dan beberapa orang terdekat terdzolimi . Pun dengan kondisi ruhiyah kita yang mengalami kesesakan. 


Lantas bagaimana kita agar tetap berada di track yang benar serta dalam penjagaan Allah? Impian kita bersama bahwa hari demi hari terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kita, adanya hubungan yang baik dengan Allah serta manusia juga. Ini adalah cita- cita besar kita, bagaimana agar semua agenda itu tidak melalaikan kita dari tanggung jawab kita sebagai hamba Allah yang dituntut agar selalu mendahulukan Dia dalam setiap gerak.

Kita yakini bahwa ketika kondisi ini sudah kita rasakan, maka akan banyak pencapaian- pencapaian yang akan kita hasilkan. Akan banyak pula pertolongan dan keajaiban yang ditunjukkan Allah kepada kita. Bukankah kita ingin agar Allah selalu mengingatkan kita ketika kita salah? Ingin selalu diberi petunjuk. Nah, berawal dari tujuan mulia ini, Allah telah memberikan garansi untuk kita. Bahwa, siapa yang menjaga Allah maka Allah akan menjaganya. Bahwa, siapa yang memohon pertolongan kepada Allah maka Allah akan menolongnya.


Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: Aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, lalu beliau bersabda yang artinya:

“Wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kau akan menemui-Nya berada di hadapanmu. Bila kau meminta maka mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberimu manfaat, niscaya mereka tidak akan memberi manfaat apa pun kepadamu selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk membahayakanmu, niscaya mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (penulis takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (tempat menulis takdir) telah kering.” (HR. At-Tirmizi no. 2516)

“Wahai anak kecil, jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Ingatlah Dia di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit. Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Telah kering pena dengan apa yang akan terjadi. Seandainya seluruh makhluk hendak memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan dirimu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan atasmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu. Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap sesuatu yang engkau benci terdapat banyak kebaikan, ketahuilah bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan, serta kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.”



Ini adalah hadits yang agung, di dalamnya terdapat wasiat yang agung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada sepupu beliau, Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma. Beliau mewasiatkan kepadanya agar senantiasa menjaga Allah dengan cara selalu melaksanakan semua perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya, dan menjaga semua batasan-batasan yang telah Allah buat dalam keadaan takut dan merasa dia selalu diawasi oleh-Nya. Karena siapa saja yang menjaga Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala akan menjaga semua kepentingan dunia dan akhiratnya. Beliau juga memerintahkan kepada Ibnu Abbas agar senantiasa meminta tolong hanya kepada Allah Ta’ala pada semua urusannya karena hanya Dialah yang Maha Mampu dan hanya Dialah yang tidak akan mengecewakan siapa saja yang berdoa kepada-Nya.

Kemudian setelah itu beliau mengingatkan kepada Ibnu Abbas akan suatu pokok yang sangat penting yaitu bertawakkal kepada Allah dan mengimani bahwa semua takdir yang Allah telah tetapkan kepada para hamba-Nya, baik yang berupa kebaikan maupun kejelekan pasti akan mengenai mereka dan tidak akan meleset dari mereka sedikitpun. Beliau juga mengabarkan bahwa karena rahmat Allah maka tidak ada satu musibahpun yang akan berlangsung terus-menerus dan tidak ada satu kesusahanpun yang akan berlanjut terus menerus, karena setiap musibah pasti ada jalan keluarnya dan setiap kesusahan pasti akan diakhiri dengan kemudahan. Karenanya jangan sampai seseorang itu putus asa dalam musibah dan kesusahan yang menimpanya. 

Semoga ini bisa penyejuk bagi kita ditengah padatnya agenda- agenda kita. Ada garansi kawan, jika kita menjaga Allah maka Allah akan menjaga kita.  Berbuatlah, maka kau akan menerima hasilnya. Expecting never ending. (23/05san)




May 16, 2012

Berguru Ketulusan pada Sosok ZAINAB binti JAHSY


Dia adalah Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya'mar. Ibu beliau bernama Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam . Pada mulanya nama beliau adalah Barra', namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, beliau diganti namanya dengan Zainab.

Tatkala Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam melamarnya untuk budak beliau yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, "Aku rela Zaid menjadi suamimu". Maka Zainab berkata: "Wahai Rasulullah akan tetapi aku tidak berkenan jika dia menjadi suamiku, aku adalah wanita terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka aku tidak mau melaksanakannya. Maka turunlah firman Allah (artinya): "Dan Tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan–urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata". (Al-Ahzab:36).

Akhirnya Zainab mau menikah dengan Zaid karena ta'at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, konsekuen dengan landasan Islam yaitu tidak ada kelebihan antara orang yang satu dengan orang yang lain melainkan dengan takwa.

Akan tetapi kehidupan rumah tangga tersebut tidak harmonis, ketidakcocokan mewarnai rumah tangga yang terwujud karena perintah Allah yang bertujuan untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan dan hukum-hukum jahiliyah dalam perkawinan.

Tatkala Zaid merasakan betapa sulitnya hidup berdampingan dengan Zainab, beliau mendatangi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam mengadukan problem yang dihadapi dengan memohon izin kepada Rasulullah untuk menceraikannya. Namun beliau bersabda: "Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah".

Padahal beliau mengetahui betul bahwa perceraian pasti terjadi dan Allah kelak akan memerintahkan kepada beliau untuk menikahi Zainab untuk merombak kebiasaan jahiliyah yang mengharamkan menikahi istri Zaid sebagaimana anak kandung. Hanya saja Rasulullah tidak memberitahukan kepadanya ataupun kepada yang lain sebagaimana tuntunan Syar'i karena beliau khawatir, manusia lebih-lebih orang-orang musyrik, akan berkata bahwa Muhammad menikahi bekas istri anaknya. Maka Allah 'Azza wajalla menurunkan ayat-Nya: "Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan          kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:"Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih kamu takuti. Maka tatkala Zaid yang telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini ( istri-istri anak-anak angkat itu ) apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi". (Al-Ahzab:37).

Al-Wâqidiy dan yang lain menyebutkan bahwa ayat ini turun manakala Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan 'Aisyah tiba-tiba beliau pingsan. Setelah bangun, beliau tersenyum seraya bersabda:"Siapakah yang hendak memberikan kabar gembira kepada Zainab?", Kemudian beliau membaca ayat tersebut. Maka berangkatlah seorang pemberi kabar gembira kepada Zainab untuk memberikan kabar kepadanya, ada yang mengatakan bahwa Salma pembantu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam yang membawa kabar gembira tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membawa kabar gembira tersebut adalah Zaid sendiri. Ketika itu, beliau langsung membuang apa yang ada di tangannya kemudian sujud syukur kepada Allah.

Begitulah, Allah Subhanahu menikahi Zainab radliallâhu 'anha dengan Nabi-Nya melalui ayat-Nya tanpa wali dan tanpa saksi sehingga ini menjadi kebanggaan Zainab dihadapan Ummahatul Mukminin yang lain. Beliau berkata:"Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian akan tetapi aku dinikahkan oleh Allah dari atas 'Arsy-Nya". Dan dalam riwayat lain,"Allah telah menikahkanku di langit". Dalam riwayat lain,"Allah menikahkan ku dari langit yang ketujuh". Dan dalam sebagian riwayat lain,"Aku labih mulia dari kalian dalam hal wali dan yang paling mulia dalam hal wakil; kalian dinikahkan oleh orang tua kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari langit yang ketujuh".

Zainab radliallâhu 'anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu ditanyakan sendiri oleh sayyidah 'Aisyah radliallâhu 'anha tatkala berkata:"Aku tidak lihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahmi dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah 'Azza wa Jalla".

Beliau radliallâhu 'anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni beliau bagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala 'Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata:"Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda". Kemudian beliau berkata: "Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para istrinya: 'Orang yang paling cepat menyusulku diantara kalian adalah yang paling panjang tangannya…' ".
Maka apabila kami berkumpul sepeninggal beliau, kami mengukur tangan kami di dinding untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy, kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang di maksud dengan panjang tangan adalah sedekah. Adapun Zainab bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.

Ajal menjemput beliau pada tahun 20 hijriyah pada saat berumur 53 tahun. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab turut menyalatkan beliau. Penduduk Madinah turut mengantar jenazah Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsy hingga ke Baqi'. Beliau adalah istri Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam, semoga Allah merahmati wanita yang paling mulia dalam hal wali dan wakil, dan yang paling panjang tangannya.
(14/05san dari sumber terpercaya)


May 8, 2012

Kecewa, Syukurilah









Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr: 1-3)

Ya, mencoba membaca situasi. 

Akhir- akhir ini ada satu fenomena klasik di kalangan aktivis, khususnya aktivis dakwah kampus. Ini bukan tren yang dibuat- buat namun ia hadir apa adanya, sedia kala. Fenomena yang tidak bisa dianggap remeh karena luarbiasa pengaruhnya bagi perkembangan dakwah kampus. Yup, kecewa.

Akhi wa ukhti fillah yang dirahmati Allah,
Bersyukurlah jika kita pernah kecewa dalam dakwah ini. Ya, karena itu artinya kita bergerak, kita berbuat. Jika kita tidak pernah bergerak dan berbuat sama sekali, bagaimana kita bisa kecewa?

Kecewa bisa jadi pada diri sendiri, saat kita terlambat bangun. Kecewa pada teman dekat, membiarkan kita melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Kecewa pada saudara, terlalu banyak menuntut. Kecewa pada orangtua, tidak mendirikan shalat tepat waktu. Kecewa pada dosen pembimbing, perfeksionis. Kecewa pada orang- orang sekitar, membuang sampah sembarangan. Hingga bisa kita simpulkan, kekecewaan ada di mana- mana dan bersama siapa saja.

Sejatinya, kecewa bermula dari sebuah harapan. Jika diibaratkan ketika  kita menanam bunga, memberi pupuk, menyiram dan merawatnya dengan baik.  Namun kenyataannya kita tidak melihat bunga yang tumbuh subur dengan indahnya bunga yang dihasilkan. Ada ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Wajar dong kecewa!

Dalam hiruk- pikuk dakwah kampus pun demikian. Kita menaruh harapan kepada saudara kita dimana kita sangat yakin dia akan mampu seperti yang kita harapkan. Misalnya dalam satu acara besar dimana kita terlibat dalam kepanitiaan (hmm, dari sini nih seringnya kasus bermula), beberapa dengan semangat memberikan berbagai argumentasi dan wacana jitu untuk kesuksesan acara. Tepat ketika wacana itu hendak diaplikasikan, gelap (beberapa gak tau pergi kemana). Akhirnya kita juga yang sibuk. Kecewa? Sangat wajar (saya dukung 100%)!

Namun apakah tindak lanjut dari rasa kecewa ini?
Haruskah kita keluar dari komunitas dakwah ini dan membentuk komunitas baru?
Wow, tentu saja tidak. Karena akhirnya kita  juga akan menemukan kekecewaan di arena baru itu.

Akhi wa ukhti fillah,
Saat kekecewaan muncul, saat itulah kita dibutuhkan. Artinya, hanya orang yang kecewalah yang peka dan mampu menterjemahkan satu keadaan. Maka peran kita hendaknya lebih besar menangkal fenomena itu.
Jelas, dibutuhkan nasihat kebenaran dari kita.
Saat yang lain tidak memperhatikan penampilan yang akhirnya tampil dengan wajah kusut, kita kecewa. Beginikah seorang ADK? Siapa yang bakal berani curhat dan meminta pendapatnya saat orang lain ada masalah?
Saat yang lain hanya cerdas dalam teori namun aksi sangat minim, kita kecewa. Bukankah Allah sangat murka kepada orang yang mengatakan apa yang tidak ia kerjakan? Siapa yang akan mau mendengarkan nasihat yang kita berikan? Kebenaran yang akan kita sampaikan?

Ya, sosok kecewa harapannya bisa menjadi pencerah bagi yang lain.
Mari renungkan kembali.
Ketika ada kelemahan dan kesalahan saudara kita, cobalah untuk menutupinya dengan kebaikan dan kontribusi yang telah ia berikan untuk dakwah ini. Sebagaimana Allah mengampunkan dosa- dosa manusia dengan amalan yang mereka perbuat.
Kita adalah da’i. Bukan mahasiswa yang tiba- tiba tanpa sengaja bergabung di barisan ini. Berbuatlah dengan ikhlas, berikanlah nasihat kepada saudara kita dengan cara yang ahsan.(09/05san)


May 7, 2012

Sosok Kader Dakwah

Aku berharap para kader dakwah adalah orang- orang yang selalu mendahulukan husnudzhon dan tabayyun dalam tiap geraknya. 
Mereka tidak gegabah dalam memutuskan sesuatu, 
mereka tidak dengan mudahnya memvonis seseorang, 
mereka tidak senang memperkeruh suasana, 
mereka tidak hanya kuat dalam ikhtiar namun juga dalam doa dan tawakal
mereka selalu menikmati perjalanannya dengan semangat dan ceria,
mereka adalah penenang di saat yang lain dalam kemelut. 

Ya, 
mereka rajin mengevaluasi kinerja dan diri,
mereka terus meningkatkan kualitas diri,
mereka selalu dinanti,
mereka yang peka dan peduli,
mereka berjalan dengan kerendahan hati,

Ya,
mereka patuh pada qiyadahnya,
mereka selalu menjaga aib saudaranya,
mereka memiliki niat yang ikhlas semata- mata karena Allah
Begitulah harapannya. (07/05san)

Aktivis Dakwah Kampus
Aktivis Dakwah Kampus, Lucky You




 
Baca Juga:
Langganan
Get It