September, 2014

Fokus pada Impian, Setia pada Proses, Bayar harga di Awal_ __Untukmu; Ayah, Ibu__ 090111/san

May 21, 2013

Perlahan, Satu- Persatu Nikmat Dicabut





Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian.
Kesedihan, kegembiraan, kenikmatan, kedukaan, dan rasa lainnya akan lebih terasa jika ia dialami oleh orang- orang terdekat kita. Dan ia akan lebih terasa jika diri kita sendiri yang mengalami peristiwa itu. Mungkin saja jika teman kita mengalami kesedihan, kita akan turut menunjukkan rasa simpati. Namun ia tidak berlangsung lama, boleh satu jam, 2 jam, satu malam, dan sangat jarang jika ia berbekas berhari- hari. Namun coba jika yang ditimpa musibah itu adalah orang dekat kita, sebut saja keluarga, maka kesedihan itu akan terbawa ke setiap aktivitas kita. Kalaupun terlupa, maka ia hanya sebentar dan akan kembali muncul perasaan itu. Selanjutnya bagaimana jika diri kita sendiri yang mengalaminya? Tidak hanya sehari, seminggu, berbulan- bulan bahkan bertahun- tahun ia akan terus melekat. Walaupun ia sudah terlewati dengan baik.

Begitupun dengan kenikmatan yang Allah berikana kepada kita. Ia kan sangat berharga jika sudah pergi, tiada. Kenikmatan yang Allah cabut dari orang- orang terdekat kita tentu menyayat hati dan perasaan. Membisikkan ke telinga bahwa kita pun akan mengalaminya. Sebut saja kenikmatan mendengar yang Allah cabut dari seorang yang sudah berusia lanjut. Jika ia adalah ayah kita, atau ibukita maka rasa sedih itu lebih dalam dibandingkan jika ia terjadi pada orang lain.

Kita patut belajar dari setiap peristiwa yang terjadi di sekeliling. Membaca setiap jengkal kejadian yang menimpa orang lain. Benar, semua ini hanya titipan. Penglihatan, pendengaran, kaki yang kuat, gigi, dan semua kenikmatan yang kita rasakan hari ini adalah titipan. Nyatanya memang setiap titipan akan diambil oleh si pemiliknya.

Allah lah yang mempercayakan kita untuk menjaga titipan kenikmatan itu. Tidaklah patas bagi kita untuk mengingkari semua kenikmatan yang dititipkan. Semakin memahami hakikat titipan, maka semakin tenang diri kita ketika telah tiba waktunya titipan itu diambil. Sebaliknya, semakin kita merasa  hebat dengan apa yang ada dalam diri kita, maka semakin sulitlah kehidupan kita jika saatnya titipn itu diambil.
 Jadilah kita sosok yang amanah untuk setiap titipan yang dipercayakan kepada kita. menjaga setiap titipan agar ia berbuah kenikmatan yang diridhoi oleh Sang Khalik adalah pengejewantahan sikap amanah. Menjaga setiap titipan agar ia tidak menimbulkan berbagai kemaksiatan juga adalah wujud dari sikap amanah.

 Dengan demikian semoga titipan ini akan diambil setelah kita memanfaatkannya untuk kebaikan. Kesabaran atas ujian dicabutnya kenikmatan adalah sebuah harga mati.

0 komentar:

Post a Comment

 
Baca Juga:
Langganan
Get It