September, 2014

Fokus pada Impian, Setia pada Proses, Bayar harga di Awal_ __Untukmu; Ayah, Ibu__ 090111/san

Man Jadda wa Jadda. Zhelayu Uspekha!

"Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?(QS. Al Qashash: 60)

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

QS. Ar Rahman: 13

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan. (QS. Yusuf: 55)

“Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik, sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu mustahil. Sedangkan Kami memandangnya mungkin terjadi. (Al-Maarij : 5-7)

“Hadapilah dengan senyuman. Selamat bahagia!

“Masalah Palestina bukan hanya masalah bangsa Palestina dan bangsa Arab saja. Tetapi masalah seluruh umat Islam, bahkan masalah kemanusiaan secara keseluruhan. Atas dasar pandangan aqidah inilah seluruh umat Islam wajib memahami kondisi dan permasalahan Palestina.

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.”

(Q.S At Taubah: 44)

“Berkata Musa, ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara aku dan orang-orang yang fasik itu."

Q.S Al Maidah; 25

““ Lailaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh dholimin “ Artinya : Tidak ada Tuhan Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku orang yang dholim "

(al anbiya;87)

““ Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab. "

Wanita adalah perhiasan. Dan sebaik- baik perhiasan adalah WANITA SHOLEHAH

HR. Muslim

"Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya."

HR. Tirmidzi

"Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari."

Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya.

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

QS. Ar Rahman: 13

Jun 16, 2011

Take it Easy


Tidak ada masalah kawan.
Hanya ingin sedikit serius.
Terlalu sering kita bercanda.
Sungguh begitu banyak sudah tawa yang tidak pada tempatnya.
Berkali- kali kudapati keluar kata- kata yang tidak sepatutnya keluar.
Kalimat yang sebenarnya tidak begitu penting untuk disebutkan.
Hanya sekedar menghibur, demikian kataku kala itu.
Mencoba mencairkan suasana, itu niatku di awal
Namun ku sadari ada banyak kesalahan di sana.

Kata- kata yang kurangkai menjadi susunan kata yang mungkin indah dan menyenangkan di hadapan kalian ternyata tidak seperti yang diharapkan.
Ada, bahkan sebagian besar hanya melemahkan pikiranku.
Ya, otak kanan memang (bercanda).
Namun tidak begitu yang kuharapkan.
Semakin banyak waktu terbuang untuk itu.
Padahal masih banyak yang perlu kita bicarakan.
Ada beberapa hal yang harus kita hafalkan.
Tersimpan banyak tulisan yang perlu kita bacakan.

Ya, hanya ingin sedikit serius kawan
Bukan marah, atau ada dendam di hati, atau berprasangka buruk , atau apalah itu
Hanya ingin sedikit mengintropeksi diri.
Mencoba ingin berbuat sesuatu yang lebih bermakna.
Itu sebenarnya.

Maaf jika terkesan datar, no ekspresi tuk beberapa hari ini.
Masih sulit mengkondisikan diri.
Sulit ternyata keluar dari zona nyaman itu.
Hadeeeeh,
Tapi bukan berarti itu kutinggalkan.
Canda tawa itu sungguh kubutuhkan.
Tidak bisa 100 %.
Kan kita atur.
Terimakasih tuk pengertiannya.


Kan kutemui kalian dengan wajah terbaikku.
Gurauan dan tawa lepas lainnya.

(17/06san)

Sosok Pemimpin?



Telah ditakhrijkan oleh At-Tirmidzi dan di hasankannya, Ibmu Majah, Ibnu Hibban dan lafadznya oleh Bukhari dari Abu Hurairah ra. katanya, Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam telah mengutus satu jema'ah yang terdiri dari beberapa orang. Sebelum mengutus mereka keluar, Rasulullah SAW telah mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari setiap orang dari mereka. Baginda SAW telah mendatangi seorang lelaki yang paling muda di antara mereka lalu bertanya, "Adakah kamu menghafal Al-Qur'an?". Lelaki itu menjawab, "Ya, aku hafal beberapa surah dan surah Al-Baqarah". Rasulullah SAW bertanya lagi, "Apakah kamu hafal surah Al-Baqarah?". Pemuda itu menjawab, "Ya". Rasulullah SAW pun bersabda, "Pergilah, kamu adalah amir mereka". 

Seorang lelaki dari kalangan mereka berkata, "Demi Allah! Kami takut untuk menghafalnya sekiranya kami terpaksa mengamalkannya". Rasulullah SAW telah bersabda, "Belajarlah Al-Qur'an dan bacalah ia, karena sesungguhnya perumpamaan Al-Qur'an itu bagi sesiapa yang mempelajarinya dan membacanya adalah seperti kasturi yang tersebar baunya di setiap tempat. Barang siapa yang mempelajarinya dan menyimpannya adalah seumpama tempat penyimpanan yang mengandung kasturi yang tertutup".

Sebagaimana dalam kitab At-Targhib.

Ditakhrijkan oleh Al-Hakim dalam kitab Al-Kunya dari Asy-Sya'shy seumpamanya katanya, Umar bin Khathab telah berkata, "Tunjukkanlah kepadaku seorang lelaki yang patut aku lantik sebagai amir untuk menguruskan hal ihwal kaum Muslimin?". Mereka menjawab, "Abdul Rahman bin Auf (ra)". Umar ra. berkata, "Dia seorang tua yang lemah". Mereka bertanya, "Siapakah yang kamu kehendaki?". Umar ra. menjawab,

Seorang lelaki, jika ia menjadi Amir mereka, ia menjadi seolah-olah orang biasa di antara mereka, dan apabila  ia tidak menjadi Amir mereka, ia seolah-olah adalah amir mereka.

Merekapun berkata, "Tidaklah kami ketahui seorangpun kecuali Ar-Rabi' bin Ziyad Al-Haris". Umar ra. pun berkata, "Kamu benar."

Sebagaimana dalam kitab Al-Kanz.

Source: http://azharjaafar.blogspot.com/2008/08/yang-layak-menjadi-amir.html 

* Barakallah kepada akhina Ikbal Abdillah sebagai ketua umum UKMI Ar Rahman UNIMED periode 2011- 2012. Bersama, kan kita wujudkan impian itu. Semoga mampu bekerjasama dengan baik. Kedekatan hati kepada Rabb kita adalah modal utama untuk meneruskan estafet dakwah ini. Tetaplah seperti gelas kosong yang selalu siap untuk diisi, bukan layaknya seperti gelas penuh yang tidak mampu lagi untuk menerima muatan lainnya. Go professional!



Pemimpin yang Terpimpin



Pemimpin yang Terpimpin
Pemimpin. Tentu kita butuh orang ini. Walau sebenarnya kita semua adalah pemimpin, namun tentu saja ada pemimpin dari para pemimpin ini. Pemimpin yang akan mengarahkan kita untuk bisa bergerak rapi, berjalan di jalan yang benar dan dengan susunan yang teratur. Dan kemudian kita bisa mencapai tujuan akhir kita.

Yap, sebelum kita dipimpin tentu saja ada tujuan yang ingin kita wujudkan selama dalam kebersamaan ini. Tentu ada hal yang ingin kita realisasikan dari sebuah kepemimpinan ini. Merumuskan tujuan dan menyamakan gerak langkah adalah hal yang pertama seharusnya kita lakukan sebelum pemimpin ini mulai beraksi bersama dengan orang yang dippimpinnya. Dibutuhkan persamaan persepsi antar seluruh elemen yang ada di dalamnya. Dan di sinilah sebenarnya peran pemimpin itu sendiri. 

Ya, bertele- tele mungkin. Semoga saja paham dengan apa yang tertuis di sini. Lanjutkan saja membacanya, insya Allah semakin paham mau kemana di bawa kemana tulisan ini.
Pemimpin.
Di awal sudah dijelaskan tentang urgensi seorang pemimpin, yaitu untuk mengarahkan dan membimbing anggota untuk bisa mewujudkan apa yang dicita- citakan.
Kemudian, kita juga mengetahui seperti apa criteria seorang pemimpin. Jika kita berbicara hal ini, tentu kita sudah memiliki sosok yang sudah jelas menjadi acuan standarisasi layaknya seorang pemimpin. Beliau adalah Rasulullah. Pemimpin sepanjang zaman.
Namun tidak bisa dipungkiri, untuk menemukan sosok sekaliber beliau sungguh sangat mustahil. Dan selanjutnya, apakah kita tidak bisa memilih seorang pemimpin karena hal itu? Tentu saja tidak. Bagaimanapun seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam setiap perjalanan hidup. Bahkan dalam suatu ruang kelas kecil pun dibutuhkan seorang etua kelas.
Untuk itu, sosok yang mendekati akhlak Rasulullah merupakan sosok yang akan kita usung menjadi pemimpin kita. Beberapa ahlak Rasulullah yang mungkin kita semua sudah pernah mendengarnya antara lain: 
1. Siddiq = jujur
Seorang pemimpin adalah mereka yang jujur dalam setiap tindakannya. Boleh jadi sesuatu itu adalah hal yang sulit dan bahkan sedikit pahit jika disebutkan namun bagaimanapun pemimpin harus menyebutkannya dengan cara yang baik. 

2. Tabligh = menyampaikan
Dalam hal ini, seorang pemimpin dituntut untuk menyampaikan kebenaran. Tidak hanya itu, pemimpin juga harus terbuka. Artinya, tidak menutup diri saat diperlukan oleh anggotanya. Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi). 

3. Amanah = dapat dipercaya
Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim). Karena seorang pemimpin dituntut supaya ahli di bidangnya. Bukan hanya degan kekuatan sendiri tentunya, namun juga kekuatan mereka yang dapat dipercaya. (atasan- red). Dengan demikian, seorangn pemimpin hendaknya terus berupaya untuk meningkatkan pengetahuannya sehingga tidak akan ditemukan berbagai kejanggalan dalam kepemimpinannya yang membuat anggota ragu kepadanya. 

4. Fatonah = cerdas
Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.

          Beberapa Nasihat tuk para pemimpin
          1. Wasiat Abu Bakar kepada Umar
          Ibnu Asakir mengeluarkan dari Salim bin Abdullah bin Umar, dia berkata, "Ketika Abu Bakar menghadapi ajalnya, maka dia menulis wasiat, yang isinya:
          'Bismillahir-rahmanir-rahim. Ini adalah surat wasiat dari Abu Bakar pada akhir hayatnya di dunia, yang bersiap-siap hendak keluar dari dunia, yang merupakan awal masanya menuju ke akhirat dan yang bersiap-siap untuk memasuki akhirat, yang pada saat-saat seperti inilah orang kafir mau beriman, orang durhaka mau bertakwa dan pendusta mau menjadi jujur, aku telah memilih pengganti sesudahku, yaitu Umar bin Al-Khaththab. Kalau dia berbuat adil, maka memang itulah yang kuharapkan darinya. Namun jika dia semena-mena dan berubah, maka kebaikanlah yang kuinginkan dan aku tidak mengetahui yang gaib. Adapun orang-orang yang berbuat aniaya akan mengetahui di mana mereka akan dibalikkan.'

          Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3:146. Ibnul-Mubarak, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir dan Abu Nu'aim meneluarkan dari Abdurrahman bin Sabith, dia berkata, Sebelum ajal tiba, Abu Bakar memanggil Umar, lalu dia berkata kepadanya,

          "Wahai Umar, bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah telah menetapkan amalan yang harus dikerjakan pada siang hari, dan Dia tidak menerimanya jika dikerjakan malam hari, dan Allah telah menetapkan amalan yang harus dikeriakan pada malam hari, dan Dia tidak menerimanya jika dikerjakan pada siang hari. Sesungguhnya Allah juga tidak nienerima yang sunat sebelum yang wajib dikerjakan."

          Begitulah yang disebutkan di dalarn Al-Kanzu, 4:363. Ibnu Sa'd mentakhrij dari AI-Muththalib bin As-Sa'ib bin Abu Wada'ah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Abu Bakar menulis surat kepada Arw bin Al-Ash, yang isinya: 'Aku sudah menulis surat kepada Khalid bin AI-Walid agar dia bergabung ke pasukanmu dan mernbantumu. Jika dia sudah datang, maka bergaullah yang baik, jangan merasa lebih tinggi darinya, jangan memutuskan perkara sendirian karena engkau merasa lebih tinggi darinya dan dari yang lain, berrnusyawarahlah dan janganlah berselisih dengan mereka. Begitulah yang disebutkan di dalam AI-Kanzu, 31133. 





          2. Wasiat Umar kepada khalifah sesudahnya 
          Ibnu Abi Syaibah, Abu Ubaidah, An-Nasa'y, Abu Ya'la, Al-Baihaqy dan Ibnu Hibban mentakhrij dari Umar bin Al-Khaththab ra., dia berkata,

          "Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar mengetahui hak orang-orang Muhajirin golongan yang pertama dan agar menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya untuk memperhatikan orang-orang Anshar yang telah menyediakan tempat tinggal dan beriman sejak sebelum kedatangan orang-orang Muhajirin, hendaklah dia menerima kebaikan mereka dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
          Aku juga berwasiat kepadanya untuk berbuat baik kepada penduduk berbagai kota, karena mereka merupakan penolong bagi Islam, penyokong dana dan penghadang musuh. Janganlah dia mengambil harta pun dari mereka kecuali harta yang berlebih dan menurut kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar dia berbuat baik kepada orang-orang badui, karena mereka meruipakan asal mula bangsa Arab dan sumber Islam. Dia harus mengambil shadaqah dari orang-orang yang kaya dan membagikannya kepada orang-orang yang miskin.

          Aku juga berwasiat kepadanya agar memenuhi hak Ahli Dzhimmi seperti yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan perjanjian dengan mereka. Dia boleh memerangi orang-orang selain mereka, dan tidak membebankan kepada mereka kecuali menurut kesanggupan mereka."

          Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Muntakhab, 4:439.

          3. Wasiat kepada Umar
          Abu Nu'am mengeluarkan dari Muhammad bin Suqah, dia berkata, "Aku menemui Nu'aim bin Abu Hindun, yang kemudian dia mengeluarkan selembar kertas, yang di atasnya tertulis:

          "Dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan Mu'adz bin Jabal, kepada Umar bin Al-Khaththab. Kesejahteraan semoga dilirnpahkan kepadamu. Amma ba'd.

          Kami nasihatkan kepadamu, sehubungan dengan tugasmu yang amat penting ini. Kini engkau sudah menjadi pemimpin ummat ini, apa pun warna kulitnya. Di hadapanmu akan duduk orang yang mulia dan yang hina, musuh dan teman. Masing-masing harus engkau perlakukan secara adil. Maka pikirkan kedudukanmu dalam hal ini wahai Umar. Kami ingin mengingatkan kepadamu tentang suatu hari yang pada saat itu wajah-wahaj manusia akan mengisut, wajah mengering dan hujjah-hujjah akan terputus karena ada hujjah Sang Penguasa yang memaksa mereka dengan kekuasaan-Nya. Semua makhluk akan dihimpun di hadapan-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya.

          Kami juga ingin memberitahukan bahwa keadaan umat ini akan muncul kembali pada akhir zaman, yang boleh jadi mereka akan menjadi saudara di luarnya saja, padahal mereka adalah musuh dalam selimut. Kami berlindung kepada Allah agar surat kami ini tiba di tanganmu bukan di suatu tempat seperti yang turun pada hati kami. Kami perlu menulis surat ini sekedar untuk memberikan nasihat kepadamu. wassalamu alaika."

          (Al-Hilyah, 1:238, Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkannya, seperti yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 8:209, Ath-Thabrany seperti di dalam Al-Majma', 5:214, dan menurutnya, rijalnya tsiqat). 


          (17/06san dari berbagai sumber) 

              * Barakallah kepada akhina Ikbal Abdillah sebagai ketua umum UKMI Ar Rahman UNIMED periode 2011- 2012. Bersama, kan kita wujudkan impian itu. Semoga mampu bekerjasama dengan baik. Kedekatan hati kepada Rabb kita adalah modal utama untuk meneruskan estafet dakwah ini. Tetaplah seperti gelas kosong yang selalu siap untuk diisi, bukan layaknya seperti gelas penuh yang tidak mampu lagi untuk menerima muatan lainnya. Go professional!
               

              Jun 15, 2011

              The Characteristics of A Teacher


              The Characteristics of  A Teacher.
              Here are some characteristics of good teacher as Rasulullah had taught us.

              Allah (سبحانه وتعالى) says in the Qur’an,
              هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
              Translation: It is He who has sent among the unlettered a Messenger from themselves reciting to them His verses and purifying them and teaching them the Book and wisdom although they were before in clear error. [Suratul Jumu'ah, verse 2]

              Allah (سبحانه وتعالى) sent Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) to do four things:
              1. Recite the verses
              2. Teach the Qur’an
              3. Teach the Wisdom (sunnah)
              4. Purify his followers.
              The Prophet (صلى الله عليه و سلم) nurtured the sahaba and taught them in such a way that the whole of Arabia drastically changed in a matter of 23 years. He had six amazing qualities of teaching that inshaAllah we can implement and follow as teachers, parents, siblings, and any other roles we have in our communities.
              Mu’awiyah ibn Al-Hakam said, “I have never seen a teacher before him (Prophet (صلى الله عليه و سلم) or after him better in teaching than he.”
              The attributes of a good teacher:
              1. Desire and keen for goodness for students: In surah At-Tawbah, Allah says, in the translation of ayah 128, “There has certainly come to you a Messenger from among yourselves. Grievous to him is what you suffer; [he is] concerned over you and to the believers is kind and merciful.” Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) also advised Abu Dhar (رضي الله عنه‏), “I see that you are weak, and I love for you like I love for myself, so if someone gives you a position of leadership, don’t take it”.
              2. Kindness. Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) said, “Allah is Kind (Rafeeq) and He loves kindness, and confers upon kindness which He does not confer upon severity, and does not confer upon any thing besides it (kindness).” [Muslim] We see his kindness throughout his life (صلى الله عليه و سلم), when he would pass by children in the street he would play with them–unlike nowadays, where people think it is righteousness to never smile. Anas ibn Malik (رضي الله عنه‏) narrated that whenever the Prophet (صلى الله عليه و سلم) would pass by children he would smile fondly and greet them. [Bukhari and Muslim].
                Anas also narrated, “I served him for ten years, and he never said “uff” (an expression of disgust) to me. He never said, ‘why did you do that?’ for something I had done, nor did he ever say ‘why did you not do such and such’ for something I had not done.” [Bukhari and Muslim].
              3. Hikmah (wisdom). Hikmah is defined as saying the right thing at the right time to the right people in the right manner. The Prophet (صلى الله عليه و سلم) said, “Help your brother, whether he is an oppressor or is oppressed.” A man inquired: “O Messenger of Allah! I help him when he is oppressed, but how can I help him when he is an oppressor?” He (صلى الله عليه و سلم) said, “You can keep him from committing oppression. That will be your help to him.” [Bukhari]. Another example is the story of the bedoin who urinated in the masjid. SubhanAllah, while all of the sahaba ran to admonition him and beat him, the Prophet (صلى الله عليه و سلم) simply said, “Leave him alone and pour a bucket of water over it. You have been sent to make things easy and not to make them difficult.” [Bukhari]
              4. Humilty and humbleness. Abu Rifa’a (رضي الله عنه‏) narrated that, “I came towards the Prophet (صلى الله عليه و سلم) while he was giving the khutba. I said ‘O Messenger of Allah, an estranged man has come asking about his religion, he does not know what his religion is.’ The Messenger of Allah came towards me and left his khutba until he reached me, and was brought a chair, I thought the legs were made of iron. The Prophet sat on it and started teaching me from what Allah had taught him. Then he returned to his khutba and completed it.” [Bukhari]
              5. Saying “I don’t know” if you don’t know the answer. Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) would only answer a question if Qur’an had been revealed answering it, or he would wait for revelation. Once, Jaabir ibn Abdillah (رضي الله عنه‏) came and asked the Prophet (صلى الله عليه و سل) about inheritance, and Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) stayed quiet until Allah (سبحانه وتعالى) revealed the ayah in Surah an-Nisaa.
              6. Speaking slowly. ‘Aishah (رضي الله عنها‏) reported that the Prophet (صلى الله عليه و سلم) did not summarize his speech, and he spoke in such a way that if one were to count his words, they could be counted. [Bukhari] Anas ibn Malik also reported that Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) would repeat his words three times.
              These are only a few of the qualities of Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) as a teacher, indeed in him we have an excellent pattern–as Allah Himself says:
              لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
              Translation: There has certainly been for you in the Messenger of Allah an excellent pattern for anyone whose hope is in Allah and the Last Day and [who] remembers Allah often. [Surah Ahzab, verse 21].

              Source: http://www.ilmfruits.com/the-best-teacher

              Sudahlah Kawan!



              dan ketika sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan...
               ya, sudahi saja...
              dan temukan sesuatu yang lain di sana...
               rasa kebermanfaatan waktu kan hadir menjelma..
              dlam bentuk apapun itu...
              yakinlah..





              dan ketika sudah dirasa cukup...
              ya, sudahi saja..
              tidak perlu berlama- lama di sana...
              ada lagi yang perlu kita kerjakan, kawan..
              hingga kan kau temukan dirimu telah menyelesaikan banyak hal..
              percayalah...

              dan ketika sudah yakin kebermanfaatan itu sangat sedikit..
              ya, tinggalkan hal itu
              kita berada dalam perkumpulan  yang punya karakter dan sikap berbeda
              semua paham akan itu
              dan semua pun tahu
              kita sudah punya komitmen tuk berjalan bersama
              namun mengapa kemudian engkau seolah tidak menganggap keberadaan kami di sini
              kuacungi jempol  untuk semua kecerdasanmu
              suerrrr

              sungguh ku ingin kita bisa berjalan bersama seperti yang telah kita gaungkan selama ini
              hingga nanti kita semakin kuat dan kutemukan diriku bermanfaat berada bersamamu
              demikian juga dirimu

              hadeeeh
              hanya catatan kecil yang mungkin bagimu sulit dimengerti dengan kosakata yang miskin
              tapi bagiku lebih dari itu, kawan
              semoga kebersahajaan ini kau terima dengan hati yang lapang
              ku ingin kita kembali menjalin kebersamaan ini
              hingga kan nanti impian itu kembali semakin jelas di depan mata
              (bukan hilang timbul)

              wassalam

              (15/06san)

              Just Do It

              terlalu banyak pertimbangan.....

              terlalu banyak yang dirisaukan........

              terlalu sempit pemikiran....

              terlalu mempermasalahkan yang sebenarnya bukan masalah........


              terlalu berpikir rumit........

              sungguh terlalu.....

              hadeeeh...

              sudahlah kawan.......
              sepertinya kita tidak cocok....
              hentikan saja sampai di sini.....
              dirimu memperlambat langkahku......
              dan aku pun tidak paham apa sebenarnya yang engkau inginkan.........

              sudahlah kalau begitu......
              temui ku ketika kita sudah bisa menerima satu sama lain........
              dan ketika kita bisa saling mendukung tuk wujudkan impian kita.......
              bukan seperti ini.......
              seolah tidak ada manfaat yang kuberikan.....
              dan begitu juga dirimu........

              terlalu banyak yang dipertimbangkan
              hanya itu sebenarnya masalahnya, kawan...

              just do it!
              banyak hal- hal yang tidak kita rencanakan...
              dan siap- siap saja untuk itu...

              semoga Allah mempertemukan kita di puncak impian itu....
              impianku dan impianmu...

              (15/06san)

              Jun 13, 2011

              Dakwah Fardiyah



              Dakwah fardiayah. Sungguh bukan hal yang mudah untuk bisa masuk ke dalam hati seseorang, sebab layaknya hati itu seperti rumah. Ada pintu yang harus kita lewati dan untuk bisa melewatinya dibutuhkan kunci untuk bisa membukanya. Kemudia, setelah pintu terbuka kita perlu mengetahui apa- apa saja yang ada di sana serta menjaga adab- adab kesopanan sehingga kita betah berada di dalam dan diterima oleh pemiliknya dengan senang hati. Demikian juga hati seseorang yang butuh perjuangan untuk kemudian kita bisa meluluhkannya. (hmm)
                          Dakwah fardiyah. Kita mungkin sudah tidak asing dengan dua kata ini. Bahkan mungkin sebagian kita telah melakukannya atau keadaan kita saat ini merupakan hasil dakwah fardiyah yang dilakukan oleh orang yang menyayangi kita.
              Dakwah fardiyah berarti sseruan atau ajakan yang dilakukan seseorang kepada orang lain ke jalan kebenaran secara individu .
              Bukankah setiap orang ingin diperhatikan? Siapapun itu, tentu ada keinginan besar agar ada orang lain yang setia mendengarkan keluhannya, menanyakan kabarnya, memperhatikan aktivitasnya, dan berbagai perhatian lainnya. Dan di sinilah peluang itu. Sebenarnya ada sisi kosong dalam hati seseorang untuk kita isi dengan kebaikan kita. Oleh karena itu, dakwah fardiyah akan sangat efektif jika kita mampu mengisi ruang kosong itu tadi. Dan dakwah fardiyah adalah sarana yang efektif.
              Sebelum memulai dakwah fardiyah berikut beberapa hal yang perlu dimiliki oleh sang da’i (penyeru) untuk kesuksesan aktivitas mulia ini:
              Pertama, kematangan pemahaman atas ajaran Islam. Ini modal dasar yang paling asasi untuk dimiliki oleh siapa pun yang ingin berdakwah. Dengan kematangan pemahaman dan kelengkapan wawasan Islam hingga detail perkaranya, seseorang bisa memahami pada sisi mana peluang dakwah itu bisa ditawarkan.
              Misalnya bila menghadapi seorang seniman untuk dijadikan objek dakwah, maka paling tidak jalan masuk yang bisa dijajaki adalah bicara tentang apresiasi Islam terhadap seni. Karena bagi seorang seniman, bila disampaikan bahwa Islam memberi ruang untuk seni dan seni itu punya peran yang penting, tentu dia akan merasa diakui eksistensi dirinya di dalam dakwah itu.
              Sedangkan bila seorang da’i tidak punya wawasan yang luas dan mendalam atas ajaran Islam, bisa jadi belum apa-apa dia akan mengharamkan ini dan itu. Hasilnya alih-alih berhasil dalam dakwah, sebaliknya seniman itu sudah kabur duluan. Karena belum apa-apa sudah dilarang dan dituding-tuding. Padahal ada sekian banyak ruang yang bisa ditempati buat sosok seniman di dalam ajaran Islam.

                          Kedua, kemampuan memahami latar belakang dan alur berpikir objek dakwah. Sebab apapun tindakan yang diambil seseorang, pastilah lahir dari sebuah logika dan paradigma berpikir tertentu. Baik bersifat internal maupun kesternal. Nah, logika dan paradigma inilah yang harus dipahami, bahkan bila perlu dikuasai untuk dijadikan hujjah dalam dakwah.
              Bisa jadi seseorang tidak bisa begitu saja dihujani dengan ayat dan hadits. Penghujanan dengan ayat dan hadits hanya efektif buat para ahli syariat yang sejak awal logika berpikirnya adalah mencari dasar pijakan dari Al-Quran Al-Karim dan Sunnah.
               Sementara sekian banyak lapisan masyarakat belum lagi sampai demikian dalam logika berpikirnya. Sehingga meski seribu ayat dibacakan, belum tentu bisa menggerakkan hatinya. Tentu kita tidak bisa memvonis mereka sebagai kufur terhadap kitab dan sunnah. Bukan itu masalahnya. Tetapi cobalah pelajari paradigma berpikirnya dan mulailah meminjam paradigma berpikirnya itu untuk diarahkan kepada hal-hal yang selaras dengan Islam.
                          Ketiga, masalah doa dan kesabaran. Dakwah itu sifatnya mengajak, namun Allah jualah yang akan memberikan hidayah kepadanya. Kita tidak punya otoritas untuk memberi hidayah.
              Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. Jadi doakanlah objek dakwah fardiyah Anda setiap hari dan bersabarlah atas proses sunnatullahnya. Karena tugas Anda hanya menyampaikan dan berusaha berdakwah. Anda tidak bertanggung-jawab untuk memberinya hidayah. (http://tarbiyatuna.wordpress.com)

              Ketika kita sebagai seorang da’i  atau aktivis dakwah kampus memahami ketiga hal tersebut insya Allah dakwah fardiyah yang kita yakini kekuatannya akan memberi pengaruh besar akan perkembangan dakwah. Berbagai keadaan yang terjadi di luar dugaan kita tidak akan menyurutkan langkah karena kita yakin bahwa kita hanya memiliki hak untuk berusaha namun semua keputusan ada di sisi Allah. Saatnya berdakwah fardiyah. Yuk, mari.
              Semoga bermanfaat. (14/06san)

              * Kepada Segenap UKMI'erzz, selamat melaksanakan Musyar 15- 16 Juni 2011. Hadirkan diri dan hati kita tuk bersama mengadakan evaluasi dan merancang perbaikan kinerja kepengurusan selanjutnya. Semoga berkah.


              Aktivis Dakwah Kampus: Membaca dan Menterjemahkan Situasi

              Apapun yang dihadapi, itulah peluang. Terimakasih untuk kalimat ini, kawan!
              Berbagai kondisi yang kita hadapi hari demi hari, selayaknyalah kita jadikan sebagai peluang. Apapun itu. Ketika kita mampu membaca dan menterjemahkan dengan benar, maka bersiaplah untuk menemukan sesuatu yang besar di sana.
              Tidak beda dalam dunia dakwah kampus. Selalu, berbagai situasi akan kita temukan dan semuanya terserah kita untuk membaca dan menterjemahkannya seperti apa. Kondisi  hati saat itu tentu sangat mempengaruhi tindakan yang kita lakukan dalam menjalankan kedua aktivitas ini: membaca dan menterjemahkan.
              Satu ketika, berbicara tentang aktivis dakwah kampus, ada beberapa orang yang tidak bisa bekerja maksimal hingga akhirnya menguras tenaga dan pikiran kita. Mungkin kita akan sedikit mengeluh, atau paling tidak meunjukkan wajah kurang peduli. Satu hal yang harus kita pahami bersama bahwa ternyata itu adalah sebuah lahan kosong yang halal dan kita diizinkan untuk menggarapnya. Jika kita bersedia menjalankan tugas itu, ibaratnya kita rela memberikan waktu untuk menanam pohon yang kita sebut dengan pohon kebaikan. Semakin kita rajin memberinya makanan, semakin kuat lah akarnya menjulang ke bawah. Semakin kita sungguh- sungguh merawatnya, semakin kokoh pula batangnya hingga nanti ia berbuah lebat dan siap untuk dipanen. Demikian juga halnya tugas dakwah tadi. Keikhlasan hati untuk menjalankannya akan menghantarkan kita pada kesenangan sejati, bukan semu. Hingga akhirnya ia tercatat sebagai amalan tambahan bagi kita di hari akhir. Bukankah itu sebuah peluang, kawan?
              Ya, kulihat Anda mengangguk lambat dan masih ada sedikit yang mungkin memberatkan hati untuk mengiyakan sepenuhnya. Mungkin kita berpikir bahwa itu tidak semudah yang dibayangkan. Bagaimana jika alasan yang diberika saudara kita yang tidak aktif itu bukanlah alasan yang syar’i? Apakah kemudian kita juga mengambil tugas itu? Dan jawabannya adalah Ya. Apapun alasan yang mereka berikan itu tidaklah urusan kita. Itu hanya persoalan antara dirinya dengan Allah yang kita tidak perlu mempermasalahkannya. Hanya membuang- buang waktu, demikian kata guru kami. Sekarang tinggal bagaimana kita bisa menjalankannya dengan ikhlas dan merasa memiliki tanggung jawab akan hal itu. Kemudian bersiaplah untuk merasakan manfaatnya, jika tidak di dunia maka terssenyumlah bahwa ia akan membantu kita di hari perhitungan nanti atau malah bisa jadi kita peroleh di dunia dan akhirat.

              Kemudian, kondisi kader yang beraneka ragam ternyata juga merupakan peluang bagi kita dan perkembangan dakwah ini. Perbedaan cara berpikir, cara bertindak, karakter, kemampuan, ternyata bukanlah menjadi masalah selama kita mampu membaca dan menterjemahkannya dengan benar, bukan sebatas terjemahan literal belaka. Kondisi tersebut ternyata memberi peluang kepada kita untuk kemudian mampu berpikir jernih dan berbuat apa yang selayaknya dibuat dalam menghadapi situasi seperti itu.
              Ada yang senang berdiskusi, namun di sudut lain ada yang lebih suka berpikir dan bekerja. Di sebelah kita ada yang senang menulis, namun di sebelah lainnya ada yang suka mengkritik dan mengkorekasi. Ada yang senang bercanda, dan ada pula yang lebih suka serius dalam setiap situasi. Beberapa orang ada yang tidak berminat mengikuti pengajian- pengajian, namun lebih memilih untuk menghadiri kajian umum yang dapat meningkatkaan pemahamannya akan ilmu dunia (akademi- red). Dan ada banyak tipe- tipe kader lainnya yang tentu saja semua itu adalah peluang.
              Pemetaan kader adalah solusi yang tepat untuk menghadapi keberagaman karakter dan kemampuan kader. Ketika pemetaan jelas dan tepat maka besar kemungkinan perkembangan jumlah kader yang diimbangi dengan kualitas yang bagus akan mampu kita capai. Peluang inilah yang patut kita manfaatkan sebaik mungkin untuk menghadirkan kader- kader yang ahli di bidang masing- masing sehingga nantinya di setiap lini kehidupan terwarnai oleh hadirnya sosok- sosok yang cerdas dan soleh.
              Kedua situasi itu hanyalah bagian kecil dari sekian banyak situasi yang ditemukan di dunia dakwah kampus. Situasi itu merupakan sebuah peluang yang terkadang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ia adalah sebuah peluang yang diberikan kepada kita secara cuma- cuma tanpa dipungut biaya sepeser pun. Tinggal kita bagaimana membaca dan menterjemahkan situasi sehingga peluang tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.
              Lihatlah kondisi real dan jadikan ia peluang! Semoga bermanfaat. (13/06san)

              *Kepada Segenap UKMI'erzz, selamat melaksanakan Musyar. Hadirkan diri dan hati kita tuk bersama mengadakan evaluasi dan merancang perbaikan kinerja kepengurusan selanjutnya. Semoga berkah.

              Jun 11, 2011

              Hadits Palsu Seputar Amalan Bulan Rajab

               "Bersyukurlah, maka akan Ku tambah nikmat Ku untukmu". Demikian janji Allah dalam QS Ibrahim. Apapun itu, hendaklah kita syukuri dengan cara kita masing- masing. Apakah melalui ucapan lisan, dengan membagi kenikmatan kepada orang lain, memaksimalkan ibadah, atau dengan cara lainnya. Demikianlah seharusnya seorang muslim dalam menjalani kehidupan ini.


              Alhamdulillah. Semoga lafazh ini tidak bosan untuk kita keluarkan dalam keseharian kita.
              Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan kenikmatan di bulan ini. Ya, bulan Rajab yang punya keutamaan tersendiri di banding bulan lainnya. Dan tentu saja setiap bulan itu memilki keistimewaan masing- masing. (No discrimination)

              Walaupun hari ini sudah hari ke- sekian bulan Rajab, bagi kita yang belum sempat berdoa seperti yang dituntun oleh Rasulullah, tidak ada salanya untuk melafazkan doanya sekarang. Yuk, marii:
              Allaahummaa bariklanaa fii Rajaba wa Sya’ban, wa balighnaa Ramadhaan.
              Yaa Allaah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.
              (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik)
              Rasulullah dengan khusyuk berdoa kepada Allah agar dia dan seluruh kaum muslimin mendapatkan keberkahan di bulan Rajab dan Sya'ban, hingga akhirnya bertemu dengan Ramadhan yang mulia.

              Namun, ada beberapa hal yang berlebihan yang terjadi di sekeliling kita. Apakah karena masyarakatnya terlalu pintar sehingga menimbulkan sesuatu yang baru, atau karena hanya sekedar ikut- ikutan, hingga akhirnya banyak amalan- amalan yang dianggap sebagai amalan khusu di bulan ini. Atau mungkin saja mereka pernah mendengar atau membaca hadist tentanag amalan tersebut, namun belum pasti kebenarannya. Oleh karena itu, supaya tidak terjadi penyimpangan dalam bulan yang mulia ini, berikut dipaparkan beberapa hadist palsu yang terkait dengan bulan Rajab.

              Mari beramal dengan ilmu yang kita miliki!



              Hadits Palsu Seputar Amalan Bulan Rajab
              Penulis: Al Ustadz Abu Al Mundzir Dzul Akmal As Salafiy.
              Fiqh, 22 Agustus 2005, 23:54:44
              1. حديث : رجب شهر الله, وشعبان شهري, ورمضان شهر أمتى. فمن صام من رجب يومين. فله من الأجر ضعفان, ووزن كل ضعف مثل جبال الدنيا, ثم ذكر أجر من صام أربعة أيام, ومن صام ستة أيام, ثم سبعة أيام ثم ثمانية أيام, ثم هكذا: إلى خمسة عشر يوما منه.

              Artinya : “Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Rajab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian disebutkan pahala bagi orang yang berpuasa empat hari, enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya, sampai disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas hari.

              Hadits ini “Maudhu`” (Palsu). Dalam sanad hadits ini ada yang bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia perawi yang dituduh pendusta, Al Kasaaiy- rawi yang tidak dikenal (Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama, juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy.

              1. حديث : من صام ثلاثة أيام من رجب, كتب له صيام شهر, من صام سبعة أيام من رجب, أغلق الله عنه سبعة أبواب من النار, ومن صام ثمانية أيام من رجب, فتح الله له ثمانية أبواب من الجنة, ومن صام نصف رجب حاسبه الله حسابا يسيرا.
              Artinya : “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab Allah Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa setengah dari bulan Rajab itu Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali.”

              Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak Shohih, sebab Abaan adalah perawi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dikeluarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.

              2. حديث : إن شهر رجب شهر عطيم. من صام منه يوما كتب له صوم ألف سنة – إلخ.
              Artinya : “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun-dan seterusnya.

              Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shohih, sedangkan Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar.

              3. حديث : من صام يوما من رجب, عدل صيام شهر-إلخ
              Artinya : “Barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh dan seterusnya”.

              Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di sanadnya ada perawi : Al Furaat bin As Saaib, dia ini perawi yang ditinggalkan.

              Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya “Al Amaaliy” : sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furaat bin As Saaib- dia ini lemah- Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan, kedua perawi ini lemah juga.

              Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya : “Syu`abul Iman” dari hadits Anas, yang artinya : “Siapapun yang berpuasa satu hari di bulan Rajab sama nilainya dia berpuasa satu tahun.” Di menyebutkan hadits yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadits ini juga ada perawi ; `Abdul Ghafuur Abu As Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan. Berkata Ibnu Hibbaan : “Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits”.

              4. حديث : من أحيا ليلة من رجب, وصام يوما. أطعمه الله من ثمار الجنة – إلخ.
              Artinya : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang harinya, Allah Ta`ala akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya.”

              Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).

              5. ديث : أكثروا من الاستغفار فى شهر رجب. فإن لله فى كل ساعة منه عتقاء من النار, وإن لله لا يدخلها إلا من صام رجب.
              Artinya : “Perbanyaklah Istighfar di bulan Rajab. Sesungguhnya Allah Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu, dan Sesungguhnya Allah Ta`ala mempunyai kota kota di Jannah-Nya yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa di bulan itu.

              Dikatakan dalam “Adz dzail” : Dalam sanadnya ada rawi namanya Al Ashbagh : Tidak bisa dipercaya.

              6. حديث : فى رجب يوم وليلة, من صام ذلك اليوم, وقام تلك الليلة. كان له من الأجر كمن صام مائة-إلخ.
              Artinya : “Di bulan Rajab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang berpuasa di hari itu, dan mendirikan malamnya. Maka sama nilainya dengan orang yang berpuasa seratus tahun dan seterusnya.

              Dikatakatan dalam “Adz dzail” : Di dalam sanadnya ada nama rawi Hayyaj, dia adalah rawi yang ditinggalkan.

              Dan demikian disebutkan tentang : “Berpuasa satu hari atau dua hari di bulan itu.”

              Disebutkan juga dalam “Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan kegelapan sebahagian atas sebahagian lainnya, di dalam sanadnya ada perawi perawi yang pendusta : Dan demikian diriwayatkan : “Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari jum`at sepekan sebelum bulan Rajab. Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : “Hai sekalian manusia! Sesungguhnya akan datang kepada kalian satu bulan yang mulia. Rajab bulan adalah bulan Allah yang Mulian, dilipat gandakan kebaikan di dalamnya, do`a do`a dikabulkan, kesusahan kesusahan akan di hilangkan.” Ini adalah Hadist yang Munkar.

              Dan dalam hadits yang lain : “Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, dan mendirikan satu malam dari malam malamnya, maka Allah Tabaraka wa Ta`ala akan membangkitkannya dalam keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya.”

              Di dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para perawi pendusta).

              Demikian juga hadits : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam di bulan Rajab, dan berpuasa di siang harinya: Allah akan memberikan makanan buatnya buah buahan dari Sorga- dan seterusnya.”

              Didalam sanadnya : Para perawi pembohong/pemalsu hadits.

              Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah yang Mulia, dimana Allah mengkhususkan bulan itu buat diri-Nya. Maka barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan Ridho Allah, dia akan dimasukan ke dalam Jannah Allah Ta`ala- dan seterusnya.”

              Didalam sanadnya : Para perawi yang ditinggalkan.

              Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan ummat Saya.” Demikian juga hadits : “Keutamaan bulan Rajab di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran atas seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya.”
              Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.
              Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya : “Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, seluruhnya Palsu dan Lemah yang tidak ada ashol sama sekali. Berkata dia : “`Abdullah Al Anshoriy tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : “Tidak ada yang shohih dari Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab.” Kemudian dia berkata : Dan demikian juga : “Tentang amalan amalan yang dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan Zakat di dalam bulan Rajab tidak di bulan lainnya.” Ini tidak ada ashol sama sekali.

              Dan demikian juga, “Dimana penduduk Makkah memperbanyak `Umrah di bulan ini tidak seperti bulan lainnya.” Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang pengetahuan saya. Dia berkata : “Diantara yang diada-adakan oleh orang yang `awwam ialah : “Berpuasa di awal kamis di bulan Rajab,” yang keseluruhannya ini adalah : Bid`ah.

              Dan diantara yang mereka ada adakan juga di bulan Rajab dan Sya`ban ialah : “Mereka memperbanyak ketaatan kepada Allah melebihi dari bulan bulan lainnya.”

              Adapun yang diriwayatkan tentang : “Bahwa Allah Ta`ala memerintahkan Nabi Nuh `Alaihi wa Sallam untuk membuat kapalnya di bulan Rajab ini, serta diperintahkan kamu Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini.” Ini Hadits Maudhu` (Palsu).

              Diantara bid`ah-bid`ah yang menyebar di bulan ini adalah :
              1. Sholat Ar Raghaaib.
              Sholat Ar Raghaaib ini diamalkan di setiap awal Jum`at di bulan Rajab.

              Ketahuilah semoga Allah Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad keempat Hijriyah. (Lihat literatur berikut ini tentang bid`ahnya sholat Raghaib :
              1. “Iqtida` As Shiratul Mustaqim” : hal.283. Dan “Tulisan Ilmiyah diantara dua orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat Raghaaib.”
              2. “Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist” : hal. 39 dan seterusnya.
              3. “Al Madkhal” oleh Ibnu Al Haaj : 1/293.
              4. “As Sunan wal Mubtadi`aat” : hal. 140.
              5. “Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Rajab” : hal. 47.
              6. “Fataawa An Nawawiy” : hal. 26.
              7. “Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah” : 2/2.
              8. “Al Maudhuu`aat” : 2/124.
              9. “Allaalaaiy Al mashnu`ah” : 2/57.
              10. “Tanzihus Syari`ah” : 2/92.
              11. “Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab” : hall. 297- serta bantahannya : Jannatul Murtaab.
              12. “Safarus Sa`adah” : hal. 150.

              Sepakat `Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Rajab adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari mereka. Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialraah mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya, dinamakan “shalat Ar Raghaaib,” para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan sholat dengan cara yang bid`ah ini, demikian juga pengagungan hari tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak-enak, mengishtiharkan bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya.

              2. Sholat Ummu Daawud di pertengahan bulan Rajab.

              Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab, dilaksanakan sholat yang dinamakan sholat “Ummu Daawud” ini juga tidak ada asholnya sama sekali. “Iqtidaus Shiraatul Mustaqim” : hal. 293.

              Berkata Al Imam Al Hafidz Abu Al Khatthaab : “Adapun sholat Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali bin `Abdullah bin jahdham, dia memalsukan hadits ini dengan menampilkan rawi rawi yang tidak dikenal, tidak terdapat diseluruh kitab.” Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam :
              “Al Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist” : hal. 40.
              Abul Hasan : `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab : “Bahjatul Asraar fit Tashauf”.
              Berkata Abul Fadhal bin Khairuun : Dia pendusta.
              Berkata selainnya : Dia dituduh sebagai pemalsu hadits sholat Ar Raghaaib.

              Lihat terjemahannya dalam : “Al `Ibir fi Khabar min Ghubar.” : (3/116), “Al Mizan” : (3/142), “Al Lisaan” : (4/238), “Maraatul Jinaan” (3/28), “Al Muntadzim” : (8/14), “Al `Aqduts Tsamiin” : (6/179).

              Asal daripada sholat ini sebagaimana diceritakan oleh : At Thurthuusyiy dalam “kitabnya” : “Telah mengkhabarkan kepada saya Abu Muhammad Al Maqdisiy, berkata Abu Syaamah dalam “Al Baa`its” : hal. 33 : “Saya berkata : Abu Muhammad ini perkiraan saya adalah `Abdul `Aziz bin Ahmad bin `Abdu `Umar bin Ibraahim Al Maqdisiy, telah meriwayatkan darinya Makkiy bin `Abdus Salam Ar Rumailiy As Syahiid, disifatkan dia sebagai As Syaikh yang dipercaya, Allahu A`lam.” Berkata dia: tidak pernah sama sekali dikalangan kami di Baitul Maqdis ini diamalkan sholat Ar Raghaaib, yaitu sholat yang dilaksanakan di bulan Rajab dan Sya`ban. Inilah bid`ah yang pertama kali muncul di sisi kami pada tahun 448 H, dimana ketika itu datang ke tempat kami di Baitil Maqdis seorang laki laki dari Naabilis dikenal dengan nama Ibnu Abil Hamraa`, suaranya sangat bagus sekali dalam membaca Al Quran, pada malam pertengahan (malam keenam belas) di bulan Sya`ban dia mendirikan sholat di Al Masjidil Aqsha dan sholat di belakangnya satu orang, lalu bergabung dengan orang ketiga dan keempat, tidaklah dia menamatkan bacaan Al Quran kecuali telah sholat bersamanya jama`ah yang banyak sekali, kemudian pada tahun selanjutnya, banyak sekali manusia sholat bersamanya, setelah itu menyebarlah di sekitar Al Masjidil Aqsha sholat tersebut, terus menyebar dan masuk ke rumah rumah manusia lainnya, kemudian tetaplah pada zaman itu diamalkan sholat tersebut yang seolah olah sudah menjadi satu sunnah di kalangan masyarakat sampai pada hari kita ini. Dikatakan kepada laki laki yang pertama kali mengada-adakan sholat itu setelah dia meninggalkannya, sesungguhnya kami melihat kamu mendirikan sholat ini dengan jama`ah. Dia menjawab dengan mudah : “Saya akan minta ampun kepada Allah Ta`ala.”

              Kemudian berkata Abu Syaamah : “Adapun sholat Rajab, tidak muncul di sisi kami di Baitul Maqdis kecuali setelah tahun 480 H, kami tidak pernah melihat dan mendengarnya sebelum ini.” (Al Baa`itsu : hal. 32-33).

              Fatwa Ibnu As Sholaah tentang sholat Ar Raghaaib, Malam Nishfu Sya`ban

              3. Sholat Al Alfiah.
              Sesungguhnya As Syaikh Taqiyuddin Ibnu As Sholaah rahimahullah Ta`ala pernah dimintai fatwa tentang hal ini, lalu beliau menjawab :
              “Adapun tentang sholat yang dikenal dengan sholat Ar Raghaaib adalah bid`ah, hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah palsu, dan tidaklah sholat ini dikenal kecuali setelah tahun 400 H, tidak ada keutamaan malamnya dari malam malam yang lainnya. Lihat Hadist hadist ini dalam kitab yang disebutkan di atas hal. 100-101, dan hal. 439-440.

              Diterjemahkan dari kitab Al Fawaaid Al Majmu`ah, Al Ahadiits Al Maudhu`ah, karya Syaikhul Islam Muhammad Bin `Ali As Syaukaniy (Wafat : 1250 H)


              (Dikutip dari website http://thullabul-ilmiy.or.id/modules/news/artikel.php?storyid=3, judul asli “Hadist-Hadist Palsu Mengenai Keutamaan Bulan Rajab.”, diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Al Mundzir As Salafiy.)
              Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
              Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=976

              Orang Kanan


              Orang Kanan. Belum selesai pekerjaan yang satu, sentuh pekerjaan yang lain. Masih bicara ssetengah tentang suatu perkara, sudah menyinggung perkara lain. Semua masih berserak, urusan lain pun segera dijamah. Tidak fokus. Haste
              Demikian yang sering terjadi. Disebut apakah orang seperti ini??
              Ternyata setelah diselidiki dan dicari- cari tipe seperti orang ini,
              Hmmm, otak kanannya dominan. Benarkah????
              Seringkali orang yang dominan otak kanan identik dengan orang yang ‘bermasalah’
              Ya, karena mereka bekerja bukan dengan cara yang sama
              Bahkan tidak jarang mereka keluar dari apa yang digambarkan
              Dengan pertimbangan matang tentunya
              Dan parahnya lagi, mereka bahkan kadang di cap sebagai orang ‘gila’
              Bagaimana tidak, dalam situasi dimana semua orang panic, mereka malah santai dan serasa tidak ada terjadi apa- apa
              Aneh bukan???? Pengen rasanya membuang orang ini ke laut. Haha
              Menyebalkan memang.
              Tapi ada apa apa di sebalik ketenangan mereka?
               Apakah memag mereka tidak berpikir?
              Waaaah, ternyata pikiran mereka sudah jauh dari apa yang dipikirkan oleh orang kebanyakan.
              Mereka justru keluar dari apa yang dirisaukan oleh yang lain.
              Ada strategi dan gebrakan baru yang mereka buat.
              Kreatif.

              Loooh, kaitannya dengan telur dadar???
              haha.. no relation, suddenly think about this. daily side dish..
              well, forget it. let's focus..

              They, who often make a sudden popping
              They, who seldom do something in order
              Dare enough to take a risk
              It’s difficult to find them slow to walk down
              Need a big exertion to see them do not feel up to move
              And never expect that they will go along with an old style
              They are the most persevering and courageous champion 
               Now, let’s take part in this zone…
               To be right, right now.. 
              (san10/06)

               
              Baca Juga:
              Langganan
              Get It