September, 2014

Fokus pada Impian, Setia pada Proses, Bayar harga di Awal_ __Untukmu; Ayah, Ibu__ 090111/san

Man Jadda wa Jadda. Zhelayu Uspekha!

"Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?(QS. Al Qashash: 60)

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

QS. Ar Rahman: 13

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan. (QS. Yusuf: 55)

“Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik, sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu mustahil. Sedangkan Kami memandangnya mungkin terjadi. (Al-Maarij : 5-7)

“Hadapilah dengan senyuman. Selamat bahagia!

“Masalah Palestina bukan hanya masalah bangsa Palestina dan bangsa Arab saja. Tetapi masalah seluruh umat Islam, bahkan masalah kemanusiaan secara keseluruhan. Atas dasar pandangan aqidah inilah seluruh umat Islam wajib memahami kondisi dan permasalahan Palestina.

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.”

(Q.S At Taubah: 44)

“Berkata Musa, ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara aku dan orang-orang yang fasik itu."

Q.S Al Maidah; 25

““ Lailaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh dholimin “ Artinya : Tidak ada Tuhan Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku orang yang dholim "

(al anbiya;87)

““ Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab. "

Wanita adalah perhiasan. Dan sebaik- baik perhiasan adalah WANITA SHOLEHAH

HR. Muslim

"Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya."

HR. Tirmidzi

"Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari."

Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya.

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

QS. Ar Rahman: 13

Showing posts with label Belajar Mengajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar Mengajar. Show all posts

May 4, 2012

Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.


Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaranmerupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Purely copied from:
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/

Apr 24, 2012

Grice's Maxims


The conversational implicature is a message that is not found in the plain sense of the sentence. The speaker implies it. The hearer is able to infer (work out, read between the lines) this message in the utterance, by appealing to the rules governing successful conversational interaction. The success of a conversation depends upon the various speakers' approach to the interaction. The way in which people try to make conversations work is sometimes called the cooperative principle.


  1. The maxim of quantity, where one tries to be as informative as one possibly can, and gives as much information as is needed, and no more.
2.      The maxim of quality, where one tries to be truthful, and does not give information that is false or that is not supported by evidence.
  1. The maxim of relation, where one tries to be relevant, and says things that are pertinent to the discussion.
  2. The maxim of manner, when one tries to be as clear, as brief, and as orderly as one can in what one says, and where one avoids obscurity and ambiguity.
As the maxims stand, there may be an overlap, as regards the length of what one says, between the maxims of quantity and manner; this overlap can be explained (partially if not entirely) by thinking of the maxim of quantity (artificial though this approach may be) in terms of units of information. In other words, if the listener needs, let us say, five units of information from the speaker, but gets less, or more than the expected number, then the speaker is breaking the maxim of quantity. However, if the speaker gives the five required units of information, but is either too curt or long-winded in conveying them to the listener, then the maxim of manner is broken. The dividing line however, may be rather thin or unclear, and there are times when we may say that both the maxims of quantity and quality are broken by the same factors.

Mar 19, 2012

Laporan Supervisi Klinis


BAB I
PENDAHULUAN

Peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah upaya peningkatan kualitas guru dalam menguasai proses pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh karena guru adalah orang yang terlibat langsung dalam proses belajar yang dijalani siswa di sekolah. Agar proses pembelajaran berkualitas maka guru-gurunya juga harus berkualitas dan profesional.
Salah satu cara untuk menumbuh-kembangkan kemampuan guru adalah melalui supervisi klinis. Supervisi klinis merupakan salah satu jenis supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah – yang bekerjasama dengan badan ahli pendidikan – terhadap para guru. Supervisi ini merupakan bantuan kesejawatan kepala sekolah kepada guru dalam mengatasi permasalahan yang dialami dalam pembelajaran dengan langkah yang sistematis. Tahapan yang ditempuh dimulai dari perencanaan, pengamatan perilaku guru dalam mengajar, dan analisis perilaku dan tindak lanjut.
Setelah memahami betapa pentingnya supervisi klinis, maka setiap sekolah hendaknya memiliki agenda supervisi klinis sehingga peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah tersebut dapat diwujudkan. Maka perlu dilakukan observasi ke sekolah-sekolah khususnya di Medan agar dapat diketahui apakah supervisi klinis telah dijalankan di sekolah tersebut. Dalam laporan ini, observasi yang dilakukan mengambil lokasi di SDN.060949, Jl. Yos Sudarso km.17,5  Kecamatan Medan Belawan.  

BAB II
PELAKSANAAN SUPERVISI KLINIS


A.    Profil SDN 060949

Nama Sekolah     : SDN. 060949
Alamat                 : Jl. Yos Sudarso km.17, 5  Kec. Medan Belawan
Kepala Sekolah   : Hj. Khairani
Sekretaris             : Leli Astuti
Bendahara           : Juriati
Anggota              :   - H. Misneli
                                - Juliana Hutabarat
                                - Khoiriyah
                                - Elida Fitri
                                - Farida Manullang
                                - Rosnelli
                                - Sahrani
                                - Reni
                                - Rini
                                - Ali Imran


B. Pelaksanaan Supervisi Klinis di SDN. 060949
             Supervisi klinis sebagai program pemberdayaan guru/tenaga pengajar di sekolah ini telah dijadikan agenda rutin beberapa kali setiap semesternya. Supervisi klinis minimal dilaksanakan dua kali selama satu semester, maksimal sekali dalam sebulan. Pelaksanaannya dilakukan oleh kepala sekolah sebagai supervisor, tanpa ada badan khusus pengawas/ supervisor. Peninjauan dilakukan kepala sekolah ke kelas-kelas, dengan memerhatikan proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
             
BAB III
PENUTUP


Supervisi klinis akan terjadi jika hubungan kolegial antara pengawas dan guru telah terjalin dengan baik. Tanpa prasyarat tersebut guru akan segan untuk meminta pengawas untuk melakukan supervise klinis terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran.

Selain itu, keberhasilan supervisi klinis juga akan sangat tergantung kepada sejauh mana pengawas memberikan bimbingan sesuai kemampuan profesional yang dimilikinya dan sejauh mana guru secara terbuka melaksanakan bimbingan yang telah diberikan oleh pengawas.


Dec 26, 2011

What is Contextual Teaching Learning (CTL)?

Contextual Teaching and Learning (CTL) helps us relate subject matter content to real world situations and motivate students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workers and engage in the hard work that learning requires. Contextual teaching and learning strategies 


Problem-based. CTL can begin with a simulated or real problem. Students use critical thinking skills and a systemic approach to inquiry to address the problem or issue. Students may also draw upon multiple content areas to solve these problems. Worthwhile problems that are relevant to students’ families, school experiences, workplaces, and communities hold greater personal meaning for students.
Using multiple contexts. Theories of situated cognition suggest that knowledge can not be separated from the physical and social context in which it develops. How and where a person acquires and creates knowledge is therefore very important. CTL experiences are enriched when students learn skills in multiple contexts (i.e. school, community, workplace, family).

Drawing upon student diversity. On the whole, our student population is becoming more diverse, and with increased diversity comes differences in values, social mores, and perspectives. These differences can be the impetus for learning and can add complexity to the CTL experience. Team collaboration and group learning activities respect students’ diverse histories, broaden perspectives, and build inter-personal skills.
Supporting self-regulated learning. Ultimately, students must become lifelong learners. Lifelong learners are able to seek out, analyze, and use information with little to no supervision. To do so, students must become more aware how they process information, employ problem-solving strategies, and use background knowledge. CTL experiences should allow for trial and error; provide time and structure for reflection; and provide adequate support to assist students to move from dependent to independent learning.
Using interdependent learning groups. Students will be influenced by and will contribute to the knowledge and beliefs of others. Learning groups, or learning communities, are established in workplaces and schools in an effort to share knowledge, focus on goals, and allow all to teach and learn from each other. When learning communities are established in schools, educators act as coaches, facilitators, and mentors.
Employing authentic assessment. CTL is intended to build knowledge and skills in meaningful ways by engaging students in real life, or "authentic" contexts. Assessment of learning should align with the methods and purposes of instruction. Authentic assessments show (among other things) that learning has occurred; are blended into the teaching/learning process; and provide students with opportunities and direction for improvement. Authentic assessment is used to monitor student progress and inform teaching practices.

Many of these strategies are used in classrooms today. Activities such as team teaching, cooperative learning, integrated learning, work-based learning, service learning, problem-based learning, and others support CTL and are already occurring in many classrooms and schools. Many educators routinely use these activities to encourage inquiry, creative problem solving, and use of higher order thinking skills. These educators see these teaching/learning processes as methods to help all students meet state and local standards.
For CTL to be effective, all strategies must be present in the teaching/learning experience. Implementation of CTL may not require drastic changes in practice for all educators. It may require enhancement of practice in one characteristic and not another. Continual use and reflection on CTL processes broadens and deepens educators’ knowledge and ability to facilitate learning.
Similarly, implementation of CTL has ramifications for the school organization. According to some CTL advocates: "This approach differs from other ways to think about teaching and learning. Here, we are not attempting to raise achievement scores by teaching basic skills. Furthermore, a quiet, orderly classroom is not to be expected. Principals, school boards, parents, and other members of the community must support this approach… to increase its probability of success" (Carr, M., et al., 1999, p.2). For CTL to be successful for all students, a school must value and support the approach. Newmann and Wehlage (1997) describe a system of support for authentic learning that has been adapted to describe supports for CTL.

In Newmann and Wehlage’s circles of support, the ultimate goal is to support high quality student learning. To do so, everyone in the school must agree on a definition of what students should learn and what strategies support learning. Next, teaching and learning strategies, (whether in the classroom, school, or community) require considerable support from the school organization. Finally, external supports provide encouragement and resources to help students and educators create high quality teaching and learning environments.
TeachNET has been designed to engage educators with a range of expertise in the use of CTL practices. TeachNET activities generate discussions and actions that help educators improve their abilities to facilitate CTL in their classrooms. Each educator will draw upon his/her expertise when considering means of enhancing CTL practices and making them work in their classrooms, schools, and communities. Because TeachNET participants, their schools, and communities are diverse, we have outlined an action planning process in which educators will identify, implement, reflect upon, and improve supports for CTL in their classrooms, schools, and communities.

Jul 12, 2011

PPLT UNIMED 2011: Menurut Kamu?

Bismillahirrohmanirrohiim..
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah dikasi kesempatan ngepost lagi. Beberapa hari ini sibuk persiapan PPLT. Mulai dari minta izin ortu, sampe persiapan sekecil- kecilnya. Hmm, kalaupun katanya biasanya 'gubrak' tapi tuk yang satu ini kita usahakan se-rapi mungkin. (ehmmm). Bersyukur d kasi kesadaran, kalo gak sadar2 cmana pula itu?

Yups, let's talk about our topic. Masih seputar PPLT UNIMED 2011. For u who are not comfort for this info, i'm sorry to say that I have to publish this. (Masa depan kami euy). Just enjoy it, Ok.

Hmm, hari ini semakin banyak yang terlihat kesal, setelah sebelumya juga sudah terpancing kesal. 12 Juli 2011 merupakan hari pengumuman lokasi PPLT seperti yang sudah diberitakan sebelumnya. Lagi dan lagi, manusia hanya berencana kawan, dan keputusan tetaplah ada pada Sang Khalik. (Ahh, pasti sudah pada tau semua ttg yang ini).Pengumuman belum dapat dipublish. Belum siap kali dari Tim UPPL, atawa malah kita sendiri yang ternyata belum siap untuk menerima kenyataan (ohh, dramatis). So, tetap positive thnking aja atau dalam bahasa kerennya husnudzon. Baik untuk terapi hati kita, dan membuat petugas nyaman untuk bekerja. Yah, semua berawal dari permulaan yang baik. Minimal inisebagai ajang latihan kesabaran kita sebelum dihadapkan pada berbagai persoalan di PPLT nantinya. No sigh at all :) .
So, buat kita yang mau PPLT 2011, pengumuman penempatan itu bisa dilihat di internet pada tanggal 18 Juli 2011 di alamat www.uppl.unimed.ac.id (maaf g bisa diaktifkan tuk mengarah ke link tsb). Siap- siap aja ya kawan!

Next,sebenarnya ane bukan mau cerita tentang itu. Seperti judul tulisan ini, ya isinya juga harus nyambung dong. Ya ya ya, PPLT UNIMED 2011: Menurut Kamu?

Program Pengalaman Lapangan Terpadu (PPLT) merupakan satu dari sekian banyak bentuk perhatian pemerintah untuk kemajuan pendidikan di tanah air. Program ini sudah berjalan sekian lama dan tentunya selalu ada beberapa perubahan yang harapannya menjadikan kegiatan ini lebih bermutu dan sesuai dengan esensinya. Keberadaan PPLT tentunya menjadi satu hal sedikit banyaknya mamapu menjadi tolak ukur kualifikasi seorang mahasiswa untuk menjadi guru.
PPLT merupakan bagian dari perkuliahan yang dilakukan dalam bentuk pmebelajran teoritik selama 6 semester dan kemudian dilanjutkan dengan praktek di lapangan (sekolah). Berbicara tentang PPLT UNIMED, pelaksanaannya didasarkan pada Surat Rektor Unimed No: 00145/J39/ PP/ 2002 tanggal 30 Januari 2002. (wewh, pas ultah ane tu. catet yaa:). Dengan adanya Surat Rektor tersebut, maka PPLT merupakan perpaduan dua jenis kegiatan, yaitu PPL Keguruan dan Kuliah Kerja Nyata. Artinya, teman2 yang mengikuti PPLT akan dinila dari kedua kegiatan tersebut: kinerja di sekolah serta kontribusi di masyarakat. Tuk lebih lengkapnya, teman2 baca deh di buku Petunjuk PPLT 2011. Mulai sekarang kudu dipelajarin tuh :).
Kemudian, gimana sih tanggapan teman2 yang akan berangkat? Pengen tau dong, Yuk kita simak.
"Kalo aku pribadi sih seneng banget, cz stelah ini aku udaha bisa langsung skripsi-an trus cepet2 wisuda deh" (ngebet pake kebaya si kawan:))
"Terus terang aku tuh hobi banget ngajar. Jadi tuk PPLT ini, pasti siap lah. Cuma satu yang aku sedikit berat, kenapa mesti di daerah2 ya? Kalo di Medan kan aku bisa tetep ngajar n penghasilan lancar terusss:)" (ekonomis banget. cocok jadi IRT, he)
"Alhamdulillah gue senang sangat.Artinya gue dikasi kesempatan untuk aplikasiin ilmu yang udah gue dapet. Trus gue juga bakalan berhubugan dengan dunia yang baru, bner2 menyenangkan." (keren, ini nih yang selalu bersyukur)
"Saatnya berdakwah di ranah baru!" (hmm, anak LDK keknya ni. Ya ya ya, go ekspansi :))
"Hmm, PPLT= ngajar. Antara senang dan tidak. Senang karena gak ada makul di kampus, gak senang karna aku tuh paling ga suka ngajar. apalagi ntar harus pake rok segala, ribet ahhh"(sedikit feminim lah kawan)
"Semangat! banyak yang bisa dijahilin" (aahh, gak bener lagi ni niatnya)
"PPLT? Sumpah, aku mending disuruh hadir tiap ari ke kampus daripada harus dibebankan dengan setumpuk RPP, Tugas dari Pamong, belum lagi ngadapin anak2nya nanti. Oh, no" (kasian kali yang ini ya, andai aku bisa menggantikan posisimu, hahay)

Itu hanya sedikit dari pendapat teman2 ttg PPLT. Apapun, seperti yang saya sebutkan di sini, kita baiknya tetap berpikir positif mencintai profesi kita. Kalau ini bisa kita jalankan, Insya Allah everythng's gonna be OK.
Tidak banyak2, karena sudah larut malam :)
PPLT UNIMED 2011 kita sambut dengan senyum terndah kita.(itu pun kalo ada, he)
Semoga bermanfaat.(12/07san)

Jun 29, 2011

Menuju PPLT UNIMED 2011 Berkah


Menuju PPLT UNIMED 2011 Berkah.
Bismillahirrohmanirrohim…
 Yap, PPLT UNIMED 2011 akan segera tiba. Banyak yang ‘garuk- garuk kepala’ mikirin tempat PPLT, ada yang malah ‘cengar- cengir’ liat si kawan yang heboh karna kampungnya menjadi salah satu tempat PPLT, dan tak sedikit yang ‘kasak- kusuk’ nunggu informasi PPLT (sedikit ‘rusuh’ sih informasinya, kajol kata mereka).
Ini nih Informasi terbaru yang diperoleh dari sumber terpercaya, Ketua UPPL  dan teman2 dari fakultas laen yang udah daftar PPL. Check check:::

1.      Yang harus dilengkapi tuk daftar PPL antara lain fotocopy : KRS sem 6, KHS sem  1- 5, KTM and kwitansi pembayaran SPP sem 7, pas foto 4x 6 sebanyak 2 lembar (ini nih yang belum ada)
2.      Pengumuman daerah PPL seminggu setelah daftar (berarti minggu depan)
3.      Pembekalan dari Universitas sekitar 3 hari sebelum pemberangkatan (jadi sekitar tanggal 22 gitu mungkin)
4.      PPLT mulai tanggal 25 Juli 2011
5.      Pendaftaran PPLT tuk FBS FT hari ni, Kamis 30 Juni 2011. Langsung ke TKP, kantor UPPL. (Jangan sampe telattttt san! Jam lapan kata si ivy J)
Hmm, berbicara tentang PPLT sedikit membuat pikiran ‘kacau- balau’. Sebagian udah mulai sedikit cerewet, dan banyak yang mulai agak calm down. Yah, yang biasanya pendiam dan kalem, mulai agak- agak banyak bicara, dan sebaliknya yang selama ini bicara ga ada ‘rem’ bisalah sedikit tenang. Kalo ane pribadi sih, tidak diantara keduanya. (tapi mulai sedikit grogi, Tanya kenapa???)
Kalau dari cerita kakak2 senior, macam- macam. Kita pun bingung mau nyimpulkan PPLT itu gimana, ya namanya beda ‘jiwa’ ya pasti beda dong cara berpikirnya. Sebagian bilang ga ada enaknya (ampuuuun, ngadapin anak2nya, guru pamong, dosen DPL, belum lagi teman satu tim kita yang ‘serba- serbi’). Naah ada juga yang bilang, enaaaak bgt. (salut deh buat yang ini). Tapi yang pasti itu semua tergantung kita masing- masing, gimana kita menanggapi ’tragedi’ yang terjadi.
Berikut beberapa ‘wejangan’ kepada mereka (dan saya juga) yang akan PPLT biar ‘event’ nya berkah and ga ada ‘sumpah serapah’. Check check:::
Pertama, berpikir positif. Ya, sederhana memang dan ane tau semua pasti udah pada ngerti ttg yang satu ini. Kata yang mudah untuk diucapkan namun sedikit ‘berat’ tuk dijalankan. Banyak ‘desas- desus’ yang mengatakan PPLT tu banyak ‘tuntutan’nya, dan gak jarang mahasiswa PPLT menjadi korban akibat ‘kenakalan’ anak murid yang akhirnya membuat si mahasiswa down.  Ya, itu memang terjadi bagi sebagian, tapi yakinkan itu tidak terjadi pada kita. Sebuah keyakinan yang besar akan menghasilkan gerakan yang besar juga. Gerakan yang akan menjauhkan kita dari hal2 seperti itu. (smg bisa dimengerti)

Kedua, berbuatlah layaknya orang penting berbuat. Ini berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh sahabat sekaligus kakak saya di ‘genk’ mingguan. Ya, menjadi seorang mahasiswa PPL adalah satu bagian penting dalam hidup. Di sini saatnya kita ber ’aksi’ dan terjun langsung ke dunia kita. Dunia yang selama ini kita masih menjadi pendengar hingga kini kita akan menjadi ‘artis’ di hadapan anak- anak yang lapar dan haus. Berpikirlah bahwa kita penting untuk mereka, jadi berbuatlah layaknya orang penting. Mereka yang hanya memikirkan hal- hal penting, mereka yang tidak disibukkan dengan pikiran2 buruk, mereka yang selalu berpikir untuk berbuat yang terbaik. Berbuatlah layaknya orang penting, mereka yang tidak sibuk memikirkan hal yang tidak penting (misalnya, nanti makannya gimana??? Hehe).
Ketiga, (yang terakhir ni karena udah mau subuh, :) cintailah PPLT. Sedikit agak melankolis, walau sebenarnya koleris. Ketika kita udah mencintai PPLT, artinya kita ikhlas ditempatkan di mana saja, kita senang satu tim dengan siapa, kita senyum2 aja liat tingkah anak murid, kita happy2 aja dapat tugas banyak dari guru pamong, kita kan selalu ceria menjalani hari2 kita di dunia yang baru. (biasanya yang baru itu kesannya 2, enak dan g enak. Seperti misalnya baru pertama kali minum es sarang burung, pasti 2 kemungkinan itu juga yang muncul). Dan akhirnya, kita menerima semuanya dengan hati yang lapang, karena memang semuanya berawal dari hati. Kalau hati kita udah tenang dan nyaman, insya Allah semuanya akan aman terkendali. 
Yups, itu ‘sekelumit’  tips yang bisa ane bagikan. Karena sesungguhnya berbagi itu artinya peduli (sharing is caring). Tambahan, tuk ADK UNIMED bisa dilihat di sini. Besar harapnnya semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semua. (30/06san)

*ditempatkan dimanapun, siap2 yaaa.
*kepada kawan2  di Enng. Dept Reg A 08 , jangan telattt yaa woi. (jam 8 tempat cuci photo dah buka belum ya????. hadeeeeh)




Jun 15, 2011

The Characteristics of A Teacher


The Characteristics of  A Teacher.
Here are some characteristics of good teacher as Rasulullah had taught us.

Allah (سبحانه وتعالى) says in the Qur’an,
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Translation: It is He who has sent among the unlettered a Messenger from themselves reciting to them His verses and purifying them and teaching them the Book and wisdom although they were before in clear error. [Suratul Jumu'ah, verse 2]

Allah (سبحانه وتعالى) sent Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) to do four things:
  1. Recite the verses
  2. Teach the Qur’an
  3. Teach the Wisdom (sunnah)
  4. Purify his followers.
The Prophet (صلى الله عليه و سلم) nurtured the sahaba and taught them in such a way that the whole of Arabia drastically changed in a matter of 23 years. He had six amazing qualities of teaching that inshaAllah we can implement and follow as teachers, parents, siblings, and any other roles we have in our communities.
Mu’awiyah ibn Al-Hakam said, “I have never seen a teacher before him (Prophet (صلى الله عليه و سلم) or after him better in teaching than he.”
The attributes of a good teacher:
  1. Desire and keen for goodness for students: In surah At-Tawbah, Allah says, in the translation of ayah 128, “There has certainly come to you a Messenger from among yourselves. Grievous to him is what you suffer; [he is] concerned over you and to the believers is kind and merciful.” Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) also advised Abu Dhar (رضي الله عنه‏), “I see that you are weak, and I love for you like I love for myself, so if someone gives you a position of leadership, don’t take it”.
  2. Kindness. Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) said, “Allah is Kind (Rafeeq) and He loves kindness, and confers upon kindness which He does not confer upon severity, and does not confer upon any thing besides it (kindness).” [Muslim] We see his kindness throughout his life (صلى الله عليه و سلم), when he would pass by children in the street he would play with them–unlike nowadays, where people think it is righteousness to never smile. Anas ibn Malik (رضي الله عنه‏) narrated that whenever the Prophet (صلى الله عليه و سلم) would pass by children he would smile fondly and greet them. [Bukhari and Muslim].
    Anas also narrated, “I served him for ten years, and he never said “uff” (an expression of disgust) to me. He never said, ‘why did you do that?’ for something I had done, nor did he ever say ‘why did you not do such and such’ for something I had not done.” [Bukhari and Muslim].
  3. Hikmah (wisdom). Hikmah is defined as saying the right thing at the right time to the right people in the right manner. The Prophet (صلى الله عليه و سلم) said, “Help your brother, whether he is an oppressor or is oppressed.” A man inquired: “O Messenger of Allah! I help him when he is oppressed, but how can I help him when he is an oppressor?” He (صلى الله عليه و سلم) said, “You can keep him from committing oppression. That will be your help to him.” [Bukhari]. Another example is the story of the bedoin who urinated in the masjid. SubhanAllah, while all of the sahaba ran to admonition him and beat him, the Prophet (صلى الله عليه و سلم) simply said, “Leave him alone and pour a bucket of water over it. You have been sent to make things easy and not to make them difficult.” [Bukhari]
  4. Humilty and humbleness. Abu Rifa’a (رضي الله عنه‏) narrated that, “I came towards the Prophet (صلى الله عليه و سلم) while he was giving the khutba. I said ‘O Messenger of Allah, an estranged man has come asking about his religion, he does not know what his religion is.’ The Messenger of Allah came towards me and left his khutba until he reached me, and was brought a chair, I thought the legs were made of iron. The Prophet sat on it and started teaching me from what Allah had taught him. Then he returned to his khutba and completed it.” [Bukhari]
  5. Saying “I don’t know” if you don’t know the answer. Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) would only answer a question if Qur’an had been revealed answering it, or he would wait for revelation. Once, Jaabir ibn Abdillah (رضي الله عنه‏) came and asked the Prophet (صلى الله عليه و سل) about inheritance, and Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) stayed quiet until Allah (سبحانه وتعالى) revealed the ayah in Surah an-Nisaa.
  6. Speaking slowly. ‘Aishah (رضي الله عنها‏) reported that the Prophet (صلى الله عليه و سلم) did not summarize his speech, and he spoke in such a way that if one were to count his words, they could be counted. [Bukhari] Anas ibn Malik also reported that Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) would repeat his words three times.
These are only a few of the qualities of Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) as a teacher, indeed in him we have an excellent pattern–as Allah Himself says:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Translation: There has certainly been for you in the Messenger of Allah an excellent pattern for anyone whose hope is in Allah and the Last Day and [who] remembers Allah often. [Surah Ahzab, verse 21].

Source: http://www.ilmfruits.com/the-best-teacher

May 26, 2011

Metode Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya ( Best,1982:119). Penelitian ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini penelitian tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Dengan metode deskriptif, penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal (west, 1982). Di samping itu, penelitian deskriptif juga merupakan penelitian, dimana pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadan dan kejadian sekarang. Mereka melaporkan keadaan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya.

Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan sobjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangan akhir-akhir ini, metode penelitian deskriptif juga banyak di lakukan oleh para penelitian karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian di lakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.

Disamping kedua alasan seperti tersebut di atas, penelitian deskriptif pada umumnya menarik para peneliti muda, karena bentuknya sangat sedarhana dengan mudah di pahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataannya. Karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual. Penenelitian deskriptif juga dapat dikembangkan ke arah penenelitian naturalistic yang menggunakan kasus yang spesifik malalui deskriptif mendalam atau dengan penelitian setting alami fenomenologis dan dilaporkan secara thick description (deskripsi mendalam) atau dalam penelitian ex-postfacto dengan hubungan antarvariabel yang lebih kompleks.

Penelitian deskriptif yang baik sebenarnya memiliki proses dan sadar yang sama seperti penelitian kuantitatif lainnya. Disamping itu, penelitian ini juga memerlukan tindakan yang teliti pada setiap komponennya agar dapat menggambarkan subjek atau objek yang diteliti mendekati kebenaranya. Sebagai contoh, tujuan harus diuraikan secara jelas, permasalahan yang diteliti signifikan, variabel penelitian dapat diukur, teknik sampling harus ditentukan secara hati-hati, dan hubungan atau komparasi yang tepat perlu dilaukan untuk mendapatkan gambaran objek atau subjek yang diteliti secara lengkap dan benar.

Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peristiwa yang saat sekarang terjadi. Dengan penelitian deskriptifi, peneliti memungkinkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antarvariabel.
Penelitian deskriptif mempunyai keunikan seperti berikut.
Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden yag sangat sediit, akibatnya biasa dalam membuat kesimpulan.

Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai. Untuk itu diperlukan para observer yang terlatih dalam observasi, dan jika perlu membuat chek list lebih dahulu tentang objek yang perlu dilihat, sehingga peneliti memperoleh data yang diinginkan secara objektif dan reliable.
Penelitian deskriptif juga memerlukan permasalahan yang harus diidentifikasi dan dirumuskan secara jelas, agar di lapangan, peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data yang diperlukan.

LANGKAH DALAM MELAKSANAKAN PENELITIAN DESKRIPTIF
Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah penting seperti berikut.

1. Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif.
2. Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas.
3. Menentukan tujuan dan manfaat penelitian.
4. Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan.
5. Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian.
6. Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen, mengumpulkan data, dan menganalisis data.
7. Mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistika yang relevan.
8. Membuat laporan penelitian


MACAM-MACAM PENELITIAN DESKRIPTIF
Banyak jenis penelitian yang termasuk sebagai penelitian deskriptif. Setiap ahli penelitian sering dalam memberikan infomasi tentang pengelompokan jenis penelitian deskriptif, cenderung sedikit bervariasi. Perbedaan itu biasanya dipengaruhi oleh pandangan dan pengetahuan yang menjadi latar belakang para ahli tersebut. Perbedaan pandangan tersebut, salah satu diantaranya bila dilihat dari apek bagaimana proses pengumpulan data dalam penelitian deskriptif dilakukan oleh peneliti.

Dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, macam-macam penelitian deskrptif minimal dapat dbedakan menjadi tiga macam, yaitu laporan dari atau self-report, studi perkembangan, studi lanjutan, (follow-up study), dan studi sosiometrik.

Penelitian Laporan Dari (Self-Report research)
Dari kaitannya dengan data yang dikumpulkan maka penelitian deskriptif mempunyai beberapa macam jenis termasuk di antaranya laporan diri dengan menggunakan observasi. Dalam penelitian self-report, informasi dikumpulkan oleh orang tersebut yang juga berfungsi sebagai peneliti.
Dalam penelitian self-report ini penelitian dianjurkan menggunakan teknik observasi secara langsung, yaitu individu yang diteliti dikunjungi dan dilihat kegiatanya dalam situasi yang alami. Tujuan obsevasi langsung adalah untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Dalam penelitian self-report, peneliti juga dianjurkan menggunakan alat bantu lain untuk memperoleh data, termasuk misalnya dengan menggunakan perlengkapan lain seperti catatan, kamera, dan rekaman. Alat-alat tersebut digunakan terutama untuk memaksimalkan ketika mereka harus menjaring data dari lapangan.

Yang perlu diperhatikan oleh para peneliti yang dengan model self-report adalah bahwa dalam menggunakan metode observasi dalam melakukan wawancara, para peneliti harus dapat menggunakan secara simultan untuk memperoleh data yang maksimal. Salah satu contoh penelitian menggunakan self-report dapat dilihat dalam laporan tentang studi Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah.

Contoh Penelitian Deskriptif menggunakan self-report
Studi Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah

Studi banding tentang kelembagaan dan sistem pembiayaan usaha kecil menengah ini mempunyai 5 tujuan penting, yaitu :

* Mengidentifikasi faktor-faktor pembangunan usaha mikro kecil dan menengah melalui sistem kelembagaan.
* Memperoleh informasi tentang faktor-faktor pengembangan kelembagaan bagi koperasi usaha kecil dan menengah.
* Meningkatkan kerja sama lembaga pemerintah agar secara komperehensif mempunyai sistem pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan para pengusaha.
* Merumuskan kebijakan, implementasi, dan sistem monitoring yang relevan dengan kelembagaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah.
* Memperoleh model best practice tentang kelembagaan dan sistem pembiayaan di Negara Filipina yang mungkin dapat diterapkan sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Penelitian studi banding ini menggunakan metode dekriptif dengan pendekatan self-report. Tempat penelitian adalah lembaga tinggi depertemen perdagangan dan industri dan lembaga lain dan lembaga lain yang menangani pertumbuhan dan perkembangan usaha kecil dan menengah. Lembaga lembaga lain tersebut termasuk kantor Biro Pengembangan Usaha Kecil Menengah (BSMD), Kantor Technology Livelihood Resource Center (TLRC). COLOMBO PLAN STAFF CALLEGE (CPSC), dan Technology Universisty of Philippines (TUP). Subjek penelitiannya adalah nara sumber yang memiliki informasi yang diperlukan dan mereka yang berhasrat dan bersedia bekerja sama dalam memberikan informasi.

Studi banding ini mempunyai hasil yang dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu lembaga pengelolaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah. Yang berkaitan dengan lembaga pengelola UKM diantaranya adalah termasuk:
Pengembangan usaha kecil dan menengah di pilipina dibawah Department Of Trade and Industry (DTI), dengan melibatkan beberapa biro yang ada ditingkat nasional dan regional.

Yang termasuk pengusaha kecil dan menengah di pilipina, adalah para pengusaha atau entrepreneur ,baik indifidual maupun kelompok warga Negara Filipina yang memiliki ciri–ciri seperti berikut : Pengusaha mikro mempunyai asset

Ada enam lembaga tinggi Negara dan beberapa kantor yang relevan dengan macam-macam kegiatan bisnis sebagai sebagai tempat pendaftaran dan yang akan membantu perkembangan dan pertumbuhan usaha baru tersebut. Program pemerintah yang terkait dengan usaha kecil dan menengah di lakanakan oleh semua lembaga yang relevan termasuk kantor yang berada dibawah tanggung jawab departemen perdagangan dari industri, depertemen keuangan, anggaran dan manajemen. Pertanian, reformasi agraria, lingkungan dan sumber daya alam, tenaga kerja dan perburuhan, transportasi dan komunikasi, pekerjaan dan pubik jalan raya, pemerintah dan dan pariwisata, sains dan teknologi, ekonomi nasional dan otoritas pengembangan semua Bank sentral Filipina baik tingkat nasional, regional, dan provinsi. Pada masing-masing kantor lembaga mempunyai prosedur, wewenang,dan jumlah pembiayaan pendaftaran yang dicantumkan secara jelas. Wewenang, prosedur dan jumlah biaya yang jelas tersebut, pada prinsipnya adalah untuk mempermudah bagi para pengusaha, kita mereka melakukan pendaftaran usahanya ke kantor lembaga tersebut.

Studi Perkembangan (Developmental Study)
Studi perkembangan atau devlopmental study banyak dilakukan oleh peneliti di bidang pendidikan atau bidang psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku, sasaran penelitian perkembangan pada umumnya menyangkut variabel tingkah laku secara individual maupun dalam kelompok. Dalam penelitian perkembangan tersebut peneliti tertarik dengan variabel yang utamakan membedakan antara tingkat umur, pertumbuhan atau kedewasaan subjek yang diteliti.

Studi perkembangan biasanya di lakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, bertujuan guna menemukan perkembangan demensi yang terjadi pada seorang respoden. Demensi yang sering menjadi perhatian peneliti ini, misalnya: intelektual, fisik, emosi, reaksi terhadapan tertentu, dan perkembangan sosoial anak. Studi perkembangan ini biasa dilakukan baik secara cross-sectional atau logiotudinal.

Jika penelitian dilakukan dengan model cross-sectional, peneliti pada waktu yang sama dan disimultan menggunakan berbagi tingkatan variabel untuk diselidiki. Data yang diperoleh dari masing-masing tingkat dapat dideskripsi dan kemudian di komparasi atau dicari tingkat asosiasinya. Dalam penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan responden sebagai sampel tertentu, misalnya: satu kelas satu sekolah, kemudian dicermati secara intensif perkembangannya secara continue dalam jangka waktu tertentu seperti tiga bulan, enam bulan, satu tahun. Semua fenomena yang muncul didokumentasi untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisis guna mencapai hasil penelitian.

Studi Kelanjutan (Follow-up study)
Study kelanjutan dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memproleh perlakuan, misalnya rogram pendidikan. Studi kelanjutan ini di lakukan untuk melakukan evaluasi internal maupun evaluasi eksteral, setelah subjek atau responden menerima program di suatu lembaga pendidikan. Sebagai contoh Badan Akreditasi Nasional menganjurkan adanya informasi tingkat serapan alumni dalam memasuki dunia kerja, setelah mereka selesai program pendidikannya. Dalam penelitian studi kelanjutan biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Out (keluran) berkaitan dengan informasi hasil akhir setelah suatu program yang diberikan kepada subjek sasaran di selesaikan. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang di ambil dari outcome (hasil) biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan, misalnya program pendidikan kepada subjek yang di teliti setelah mereka kembali ke tempat asal yaitu masyarakat.

Studi Sosiometrik (Sociometric study)
Yang dimaksud dengan sosiometrik adalah analisis hubungan antarpribadi dalam suatu kelompok individu. Melalui analisis pilihan individu atas dasar idola atau penolakan sesorang terhadap orang lain dalam suatu kelompok dapat di tentukan.
Prinsif teori studi sosiometrik pada dasarnya adalah penanyakan pada masing-masing anggota kelompok yang diteliti untuk menentukan denga siapa dia paling suka, untuk bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Pada kasus ini, dia dapat memilih satu atau tiga dalam kelompoknya. Dari setiap anggota, peneliti akan memperoleh jabatan yang bervariasi. Dengan menggunakan gambar sosiogram, posisi seseorang akan dapat diterangkan kedudukannya dalam kelompok organisasi.

Dalam sosiogram tersebut pada umumnya digunakan beberapa batasan istilah yang dapat menunjukan posisi individu dalam kelompoknya. Beberapa istilah tersebut seperti misalnya:

* “Bintang” diberikan kepada mereka yang paling banyak dipilih oleh para anggotanya,
* “Terisolasi” di berikan kepada mereka yang tidak banyak dipilih oleh para anggota dalam kelompok,
* “Klik” diberikan kepada kelompok kecil anggota yang saling memilih masing orang dalam kelompoknya.


Dibidang pendidikan, sosiometrik telah banyak digunakan untuk menentukan hubungan variabel status seseorang misalnya pemimpin formal, pemimpin dalam lembaga pendidikan atau posisi seseorang dalam kelompoknya dengan variabel dalam kegiatan pendidikan. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarlkan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya, dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan karakeristik objek yang di teliti secara tepat.

Penelitian deskriptif mempunyai keunikan diantaranya, seperti berikut.

* Menggunakan kuesioner atau wawancara sering kali hanya mendapatkan responden yang sedikit yang dapat menakibatkan biasanya kesimpulan;
* Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadang kala dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai;
* Memerlukan permasalahan yang di rumuskan ssecara jelas, agar pada waktu menjaring data di lapangan, peneliti tidak mengalami kesulitan.

Dilihat dari aspek pengumpulan data di lapangan, penelitian deskriptif dapat dibedakan antara lain menjadi penelitian diri, studi perkembangan, studi kelanjutan, dan studi sosiometrik.

* Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah seperti berikut.
* Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif.
* Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas.
* Menentukan tujuan dan manfaat penelitian.
* Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
* Menentukan kerangka berfikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian.
* Mendesain metode penelitian yamg hendak di gunakan, termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen pengumpul data, dan menganalisis data.
* Mengumpulkan dan mengorganisasi serta menganalisis data dengan menggunakan teknik statistika yang relevan.
* Membuat laporan penelitian

 
Baca Juga:
Langganan
Get It